Warta‎ > ‎Kolom‎ > ‎

Al Quran Sebagai GIDZA' RUHY (Santapan Ruhani)

diposting pada tanggal 2 Okt 2013 03.23 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui2 Okt 2013 03.24 ]

Al Quran
“Dan demikianlah Kami turunkan ruuhan (Al Quran) dengan perintah kami” 
(QS As Syura: 52)

Sayyid Qutb mengatakan:

Di dalam Al Quran terdapat kehidupan yang dapat menyebarkan, mendorong, menggerakkan, dan mengembangkan kehidupan di dalam hati dan realita aktivitas yang dapat disaksikan.

Orang yang sedang tilawah dan menghafal ayat- ayat Al Quran sesungguhnya bukanlah sedang membaca atau menghafalkan kata yang tidak memiliki misi khusus, sebagaimana orang membaca atau menghafalkan syair-syair atau puisi yang ditulis oleh manusia. Namun, sesungguhnya ia sedang mengisi kehidupan jiwa, akal, bahkan jasadnya.

Imam Hasan Al Banna member gelar kepada para aktivis yang bener-benar komitmen terhadap Al Quran sebagai RUH, dalam satu ucapannya: 

Antum ruuhun jadid fi jasadil ummah (kalian ruh baru dalam tubuh ummat ini).

Dapat kita pahami bahwa Al Quran sangan dibutuhkan oleh ruhani kita, sebagaimana tubuh kita mrmbutuhkan makanan. Kalau tubuh bisa sakit karena kurang makan, berarti ruhani pun akan sakit bila tidak terpenuhi santapannya.

Ruhani yang sehat dan kuat terkadang melebihi kekuatan tubuh yang sehat dan kekar, apalalgi kalau kedua unsur tersebut sehat, maka sungguh sempurnalah manusia tersebut dalam kehidupannya. Orang-orang munafik yang malas berjihad sebenarnya bukan karena tubuhnya yang sakit atau udzur, melainkan karena ruhnya yang lemah dan tidak memiliki kemauan. Allah menggambarkan sesungguhnya tubuh mereka sehat dan menakjubkan.

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum, dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka, mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar.” (QS Al Munafiqun: 4)

Mereka diumpamakan seperti kayu yang tersandar, maksudnya untuk menyatakan sifat mereka yang buruk meskipun tubuh mereka bagus-bagus dan mereka pandai berbicara, akan tetapi sebenarnya otak mereka kosong tak dapat memahami kebenaran.

Tong kosong nyaring bunyinya, itulah sifat orang munafik dalam kehidupan. Sedangkan mukmin yang Qurani seperti  sahabat Amr Bin Jamu’, beliau adalah orang yang kakinya pincang. Secara syar’i karena keadaannya, beliau diperbolehkan untuk tidak berangkat jihad. Namun karena ruhiyahnya menyatu dengan surga Allah SWT, ia memaksa Rasulullah SAW agar mengizinkan untuk ikut serta dalam jihad seraya mengatakan, 

Wallahi, sesungguhnya aku berharap dapat menginjak dengan kepincanganku ini “al jannah”

Masih banyak kisah-kisah sahabat yang sebenarnya telah udzur, namun karena semangatnya lebih kuat dari kondisi tubuhnya, mereka dapat berjihad sampai “menemui syahadah.”

Tilawah Al Quran apalagi menghafalnya merupakan upaya yang sangat efektif untuk memperoleh ruh Al Quran disamping ibadah-ibadah lain. Sehingga ruh kita penuh dengan muatan ayat-ayat Allah SWT, yang dapat menjadikannya kuat dalam mengarungi kehidupan ini. Memang tidak lepas dari tujuan, baik terhadap diri ataupun keluarga.

Cukup banyak peristiwa yang terjadi pada diri aktivis yang mengalami ujian cukup berat, hanya karena mereka menyeru kepada jalan Allah SWT. Diantara mereka harus dijebloskan dalam penjara dan mengalami berbagai macam siksaan. Namun, dengan Al Quran mereka menjadi tabah dan kuat menghadapi masa-masa yang berat itu.  Nadhimah Khotul, seorang mujahidah Afghanistan, patut dijadikan contoh. Beliau bersama bebrapa mujahidah lain, selama 6 tahun berada dalam penjara rezim Najib. Beliau pernah berkata kami mengalami berbagai macam siksaan, namun HALAQOH QURAN (membaca dan mengkaji Al Quran) dapat membantu kami bersabar dan bertahan (Majalah Al Jihad No 70, 1990). Begitupun yang dialami para aktivis yang menentang kudeta pemerintahan Presiden Mursi di Mesir baru-baru ini.

Kejadian semacam ini telah banyak dialami oleh para aktivis dari zaman dahulu sampai sekarang. Hal itu akan terus dirasakan oleh siapa saja, selama ia memiliki kecintaan dan komitmen terhadap Al Quran.

Sungguh tidak bisa dipungkiri lagi bagi kita para aktivis dan pejuang PKS sebagai partai dakwah, komitmen terhadap Al Quran harus senantiasa ditingkatkan, baik dengan tilawah, tadabbur, menghafal, apalagi mengamalkannya.

Allahu a’lam.


Penulis: Runingsih
Comments