Warta‎ > ‎Kolom‎ > ‎

Bahaya Laten CEDAW Bagi Keluarga Indonesia

diposkan pada tanggal 29 Des 2013 19.00 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui29 Des 2013 19.01 ]

ilustrasi keluarga
Fenomena masa kini, wanita akan merasa bergembira karena saat ini pertumbuhan  wanita karier meningkat tajam, wanita menjadi direktur di sebuah perusahaan besar adalah lumrah, begitu juga ketika seorang wanita mencalonkan menjadi presiden itu sah-sah saja.

Tetapi, disamping kegembiraan itu, kita pun disuguhi pemandangan, anak-anak broken home, kawin cerai sudah biasa di masyarakat kita, angka aborsi meningkat, anak yang lahir di luar nikah sudah tidak bisa dihitung jari, KDRT makin menjadi, dan lain sebagainya. Ada apa ini? Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa wanita masih rentan dari diskriminasi dan kekerasan gender?

CEDAW dan Bahaya Latennya

Mungkin tidak banyak yang tahu tentang CEDAW (Committee on the Elimination of Discrimination against Women). Di mana kaum feminis yang membawa misi “Anti diskriminasi pada perempuan” dengan mulus mendapatkan restu dari PBB. Tujuan dari pendirian lembaga ini adalah untuk membuat sebuah komite dalam rangka menghapuskan diskrimasi kepada wanita apapun bentuknya.

Bagaimana sepak terjangnya selama ini untuk melindungi wanita dari diskriminasi? Apakah keberhasilan yang telah dicapainya? Bagaimana kondisi para wanita masa kini di bawah perlindungan CEDAW?

Tahukah Anda? CEDAW didirikan oleh penggiat feminis di dunia sudah berdiri sejak 33 tahun yang lalu. Isu sentral yang diangkat oleh CEDAW ada tiga, isu anak, isu kesetaraan gender dan isu diskriminasi pada wanita.

Fakta yang mencengangkan dari lembaga yang katanya berusaha mengadvokasi masalah wanita ini adalah, “Barat lewat CEDAW, tidak menginginkan anak wanita menjadi seorang ibu!”  Padahal kita tahu, di dalam agama manapun menjadi seorang ibu adalah fitrah yang tidak bisa ditolak.

CEDAW, terutama saat konvensi ini lahir pada tahun 1979 banyak kejangggalan dan bahaya dari isi konvensi yang kini dinilai banyak mempengaruhi  isi Draf RUU Kesetaraan Gender (KKG).[dikutip dari Hidayatullah online]

Ada beberapa tahapan agenda CEDAW, dari mulai menciptakan opini umum sehingga mereka menjadi pusat perhatian nasional maupun internasional,  membentuk public discussion tentang agenda mereka, membuat peraturan undang-undang, sampai kepada menekan negara-negara sampai mau menerima keputusan mereka.

Tahun 1984 Indonesia ikut menjadi negara yang meratifikasi keputusan dalam konvensi mereka. Maka, boleh jadi kampanye pembagian kondom gratis kepada seluruh lapisan masyarakat terutama pengguna pemula (remaja/anak-anak sekolah) ada kaitannya dengan dana-dana yang mereka bagikan secara besar-besaran lewat kampanye kondom.

Di sisi lain banyak kemajuan yang dilakukan oleh wanita dengan kesetaraan gender ini, tetapi kemunduran keluarga pun banyak terjadi. Para pegiat Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) terus menyuarakan hak-hak mereka, dengan membawa sejumlah poster.

Akibat dari CEDAW ini sendiri jumlah angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) justru semakin menaik tajam.

Apa pasal? Salah satunya adalah karena sekarang banyak fenomena wanita dan laki-laki menjadi saingan, menjadi rival dan sebagainya, wanita aborsi, wanita selingkuh, wanita mati usia dini, wanita korban KDRT terus terjadi, suami korban mutilasi, rumah tangga terancam cerai, anak-anak menjadi korban ulah orang tuanya. Belum lagi legalisasi kondom yang dikampanyekan untuk mencegah tingkat aborsi yang semakin tinggi, kampanye sex aman dan sebagainya.

Alih-alih ingin melindungi hak azasi wanita dari diskriminasi dan kesetraan gender, justru saat ini rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah pun semakin jauh dari harapan.

SOLUSI

Apa solusinya? Solusinya cukup mudah sebenarnya. Setiap keluarga kembalilah kepada fitrah Islam. Islam agama yang sempurna. Islam telah mengatur bagaimana cara umat memandang keluarga. Islam juga mengatur tanggungjawab umat untuk melindungi keluarga sejak awal pembentukannya. Islam juga mengatur hubungan suami istri, aturan-aturan baku hubungan laki-laki dan wanita dan sebagainya.

Dengan kembali kepada fitrah Islam, seluruh anggota keluarga dan masyarakat akan terlindungi hak-haknya karena Allah yang akan menjaga keluarga dan masyarakat dari kerusakan.

Keluarga, adalah sebuah institusi terkecil dalam negara ini. Sebagai partai kader yang mengusung keharmonisasian keluarga, dalam praktik berkaryanya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sangat konsen kepada masalah-masalah yang dihadapi wanita, anak-anak dan keluarga. Lewat program unggulan Bidang Perempuan PKS, Pengarus Utamaan Keluarga (PUK), PKS membuat berbagai macam seminar, workshop dan pelatihan yang mengedukasi masyarakat agar tercipta keluarga yang kuat dan harmonis.

Program Pengarus Utamaan Keluarga terus dilakukan oleh Bidang Perempuan PKS di seluruh Indonesia dan seluruh dunia. Sedikit demi sedikit melakukan pendekatan persuasive, mengedukasi masyarakat dengan pendekatan-pendekatan cultural dan religius. Semoga, rakyat Indonesia semakin kuat ketahanan keluarganya yang akan menyebabkan kuatnya benteng negara ini. 


Penulis: Sri Widyastuti, Johor Bahru, Malaysia
Comments