Warta‎ > ‎Kolom‎ > ‎

Fisika Bicara Tentang Ukhuwwah

diposting pada tanggal 12 Mei 2015 04.26 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui12 Mei 2015 04.27 ]

Fisika
Sesungguhnya Alloh SWT telah menebarkan nasihat kehidupan untuk manusia di muka bumi ini agar menjalani hidup sebagaimana mestinya, termasuk dalam hal persaudaraan. Nasihat tersebut terkadang berupa hikmah yang harus direnungi, sebagaimana kita men-tadabburi berbagai ciptaan Alloh SWT, seperti Ilmu Fisika.

Pendahuluan

Ukhuwwah Islamiyyah merupakan anugerah yang agung dan mahal dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan ini merupakan nikmat kepada para hamba-Nya yang mukmin, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (pada masa Jahiliyah) saling bermusuhan, maka Allah  mempersatukan hati-hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya.” (Ali Imran : 103)

Ukhuwwah Islamiyyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang melahirkan perasaan yang dalam terhadap kasih sayang, mahabbah (kecintaan), kemuliaan dan rasa saling percaya sesama orang yang terikat dengan aqidah Islam, iman dan taqwa. Perasaan persaudaraan ini melahirkan sikap positif, seperti tolong-menolong, mengutamakan orang lain, kasih sayang, pemaaf, pemurah, setia kawan dan sikap mulia lainnya. Demikian pula persaudaraan ini dapat menjauhkan setiap yang membahayakan manusia, baik yang menyangkut diri, harta dan kehormatan.

Sejarah telah membuktikan bahwa rasa ukhuwwah yang mumpuni dapat melekatkan hubungan yang luar biasa. Mari kenang kembali betapa Rosululloh SAW dan para sahabatnya begitu cintanya kepada seluruh orang yang beriman. Kita juga dapat melihat betapa hebatnya pengorbanan kaum Anshor di Madinah terhadap para Muhajirin dari Makkah sehingga mereka tidak segan berbagi harta dan saling membantu. 

Dalam peperangan di Padang Karbala, kita juga dapat mengenang rasa itsar atau mendahulukan kepentingan orang lain pada kisah pejuang muslim yang sekarat dan kehausan namun lebih memilih untuk memberikan kesempatan untuk meneguk air minum kepada rekannya. Kita juga sebaiknya tidak melupakan bagaimana sebuah kisah menyejukkan dimana ketika salah seorang sahabat berniat memberikan masakan daging kambing kepada tetangganya namun karena setiap orang dengan ikhlasnya lebih memilih untuk memberikannya kepada tetangganya yang lebih membutuhkan akhirnya masakan itu kembali pada dirinya dengan utuh setelah melalui tangan beberapa tetangga. Berbagai kisah yang ada tersebut mencerminkan bahwa salah satu karakter yang harus ada pada insan yang beriman adalah ukhuwwah.

”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka....” (QS Al Fath : 29)
Ukhuwwah Dalam Fisika

Jika ditelisik lebih dalam, ukhuwwah sebenarnya merupakan salah satu bentuk hubungan psikologis antara dua orang yang beriman dengan melibatkan unsur hati dan rasa. Ukhuwwah tentunya membutuhkan keberadaan interaksi antara kedua orang tersebut. Apabila interaksi ini hanya bersifat sepihak, maka ukhuwwah tidak akan tercipta dengan baik sebagaimana mestinya.

Dengan rasa ukhuwwah yang tinggi, kedua orang mukmin yang berinteraksi tersebut seolah-olah memiliki rasa kedekatan yang juga tinggi. Keduanya terlihat menyatu dan begitu lekat, terutama pada hati mereka yang sepertinya memiliki gaya tarik-menarik sehingga menjadi begitu akrabnya. Demikian pula sebaliknya, pada orang yang tidak memiliki unsur ukhuwwah, baik keduanya ataupun hanya salah satunya, maka antara hati mereka pun berjauhan bahkan mungkin akan saling bertolak belakang.

Karena ukhuwwah terkait dengan hubungan antar manusia dan terjadi gaya tarik-menarik dan tolak-menolak antara hati keduanya, sebenarnya, kita juga dapat menelaahnya dalam cara pandang berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti Fisika. Walaupun dikenal sebagai ilmu yang njelimet dengan berbagai rumusnya, Ilmu Fisika sebenarnya tidak melulu berbicara masalah hitung-hitungan. Jika kita membedah aspek filosofinya, kita juga dapat mengupas tentang ukhuwwah.

Gaya Tarik Menarik dan Tolak Menolak

Apabila ingin membahas tentang hubungan interaksi tarik-menarik dan tolak menolak, seperti ukhuwwah, maka di dalam ilmu fisika, terdapat sebuah prinsip hukum gaya interaksi antara dua benda. Gaya interaksi ini diuraikan oleh ilmuwan Fisika terkenal, Sir Isaac Newton, dengan hukum gravitasi alam semesta. Dalil ini juga kemudian diadaptasi untuk gaya tarik menarik antara dua muatan listrik statis dengan hukum Coulomb ataupun gaya tarik menarik antara dua kutub magnet.

Dalam dalil tersebut dijelaskan bahwa pada dua buah obyek benda di jagat raya ini sebenarnya terdapat gaya tarik menarik yang sebanding dengan sebuah nilai tertentu yang disebut konstansta, sebanding dengan kedua massa benda dan berbanding terbalik dengan jarak antara kedua benda secara kuadratis. Apabila massa kedua benda semakin besar dan jarak antara keduanya semakin kecil maka gaya tarik menarik antara keduanya akan semakin besar. Demikian juga yang akan berlaku sebaliknya. Hal yang sama juga terjadi pada listrik statis dan kutub magnet yang dipengaruhi oleh besar muatannya dan besar kekuatan kutub magnetnya.

Apabila ingin membahas tentang hubungan interaksi tarik-menarik, seperti ukhuwwah, maka di dalam ilmu fisika, terdapat sebuah prinsip hukum gaya interaksi antara dua benda. Gaya interaksi ini diuraikan oleh ilmuwan Fisika terkenal, Sir Isaac Newton, dengan Hukum Gravitasi Alam Semesta. Dalil ini juga kemudian diadaptasi untuk gaya tarik menarik antara dua muatan listrik statis dengan hukum Coulomb ataupun gaya tarik menarik antara dua kutub magnet.

Prinsip ini juga dapat diterapkan pada hubungan ukhuwwah. Gaya tarik menarik antara kedua obyek alam semesta dengan gravitasi, ataupun pada magnet dan muatan listrik dapat dianalogikan dengan pengaruh yang kuat dalam ukhuwwah sehingga menimbulkan ketertarikan dan kedekatan hati antara kedua orang mukmin. Dengan demikian, dengan mengadopsi prinsip fisika, besarnya kekuatan ukhuwwah juga dipengaruhi oleh beberapa unsur yaitu :

a. Membutuhkan Keimanan

Sebuah magnet sebesar apapun tidak akan mampu untuk menarik sebuah kayu, plastik dan benda lain yang tidak memiliki sifat konduktor magnet. Demikian pula dengan ukhuwwah, ia tidak akan muncul apabila dilakukan bukan atas dasar keimanan. Ia hanya akan menjadi hubungan biasa yang tak bermakna.

Ukhuwwah Islamiyyah adalah sifat yang menyatu dengan iman dan taqwa. Tidak ada ukhuwwah tanpa iman, dan tidak ada iman tanpa ukhuwwah. Hal ini sesuai dengan firman Alloh SWT dalam Al Qur’an

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara...” (QS. Al Hujuraat : 10)

Sesungguhnya yang menimbulkan cinta dan ukhuwwah adalah Alloh SWT. Sehebat apapun usaha manusia untuk menumbuhkan ukhuwwah namun jika tidak dilandasi karena Alloh SWT maka akan sirna belaka.

”Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak akan dapat mempersatukan hati-hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati-hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal : 63)

Rosululloh SAW pun telah menyitir hal ini dalam haditsnya bahwa dengan cinta yang tulus murni dan ikhlash yang menjadi prasyarat terciptanya hubungan yang kokoh hanya bisa dicapai apabila dilandasi karena Alloh SWT.

”Paling kuat tali hubungan keimanan (antara sesama mukmin) ialah cinta karena Alloh SWT dan benci karena Alloh SWT. (HR. Ath-Thabrani)

b. Besarnya muatan internal

Pada dua buah magnet yang kecil yang melekat karena memiliki gaya tarik menarik, kita dapat mengamati bahwa akan sangat mudah untuk memisahkan antara keduanya. Demikian pula dengan mudahnya dapat dipahami bahwa akan semakin sulit memisahkan dua buah magnet berukuran besar karena gaya magnet keduanya juga membesar. Hal yang sama juga akan terjadi pada dua buah muatan listrik statis.

Gejala ini tentunya dapat dijelaskan dengan teorema hubungan interaksi dalam Hukum Gravitasi Alam Semesta. Besarnya gaya interaksi antara kedua benda, termasuk magnet dan muatan listrik, sebanding dengan besarnya muatan internal pada keduanya. Pada gravitasi, jika massa kedua benda makin besar maka gaya tariknya akan bertambah. Demikian juga gaya tarik pada magnet dan listrik statis yang dipengaruhi oleh besarnya kutub magnet dan besarnya muatan listrik.

Dengan demikian, sesungguhnya Alloh SWT ingin berpesan kepada kaum muslimin melalui ilmu Fisika bahwa apabila ingin meningkatkan kualitas ukhuwwah islamiyyah maka kita masing-masing harus memperbesar intensitas muatan internal yang ada pada diri masing-masing. Jika berbicara ukhuwwah maka muatan internal yang dimaksud tentunya adalah rasa cinta karena iman dan keterbukaan hati yang dipengaruhi oleh taqwa.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan melalui Anas bin Malik ra bahkan digambarkan hubungan antara kekuatan iman dan besarnya ukhuwwah islamiyyah dimana Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri (Shahih Muslim).

Fisika ternyata telah mengajarkan pada kita bahwa apabila kita menginginkan adanya rasa ukhuwwah yang sejati dan kedekatan yang hangat, maka kedua belah pihak juga harus meningkatkan rasa kecintaannya.  

c. Memperkecil Jarak dan Kesenjangan

Dua buah magnet akan menunjukkan interaksinya apabila telah berada pada medan magnet. Jika kita memisahkan keduanya pada jarak tertentu maka gaya magnetnya tidak akan memiliki pengaruh. Semakin jauh jarak keduanya maka akan semakin kecil gaya tarik menariknya bahkan jika makin menjauh maka akan menjadi nol. Sebaliknya juga akan semakin besar gaya itu jika makin mendekat.

Demikian pula yang berlaku pada ukhuwwah. Jika kita menginginkan ikatan hubungan ukhuwwah yang kuat maka kita harus memperpendek jarak dan kesenjangan, terutama yang bersifat batin. Dalam hal ini, Islam telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa memelihara silaturrahim dengan memperbanyak berkunjung ke rumah saudara seiman dengan berjumpa dan berpisah karena Alloh SWT.

Berbagai upaya untuk menjauhkan hubungan dengan sesama muslim seperti permusuhan dan kebencian adalah hal yang dibenci. Islam bahkan mengecam keras bagi seorang yang berupaya menjauhi saudaranya apalagi memutuskan tali silaturrahim. Lebih dari itu, jikapun terpaksa kita berkonfrontasi, maka batas maksimalnya hanyalah tiga hari dan itupun adalah hal yang harus dijauhi.

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari (Shahih Muslim).

Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, "Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak mau menyapa) saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam" (Shahih Muslim No. 4643).

Comments