Warta‎ > ‎Kolom‎ > ‎

Jen dan Istrinya: Perkenalan

diposting pada tanggal 29 Des 2013 22.32 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui1 Jan 2014 22.19 ]

Selagi melaksanakan ibadah umroh di Harom, Fahri Hamzah menceritakan kisah sahabatnya, Jen dan istrinya. Simak ceritanya berikut:
  1. Jadi ingin cerita kisah pertemuan Jen dengan isterinya Szilvia Fabula sebab saya yg jumpa pertama.
  2. Itu pertemuan tanpa sengaja... hari terakhir kunjungan kami... mencari oleh2 buat keluarga... keluar masuk toko suvenir.
  3. Kami mencari dan agak sulit karena mereka jarang yang berbahasa Inggris. Saya ketemu satu. Ada 3 gadis dalam toko itu.
  4. Dua gadis penjaga tak terlalu mengerti... saya mencari kaos oblong... motif yang "historis"... tentang budapest.
  5. Saya biasanya membawa oleh2 oblong karena tidak semua anak saya boleh makan coklat. Oblong seragam lebih baik.
  6. Maka, permintaan saya dijawab oleh manajer toko yang keluar menghampiri dengan bahasa Inggris yang sangat bagus.
  7. Dialah Szilvia Fabula gadis Hongaria yang saat itu sedang mengambil S2 bidang ekonomi. Sy tak mendalami kampusnya.
  8. Pantas bahasa Inggrisnya bagus. Dan tentu belanja jadi lebih mudah. Sy ingat beli oblong agak banyak.
  9. Sekeluar toko itu, saya melihat Jen masih berjalan tangan kosong belum ada belanjaan.
  10. Jen (begitu dia sy sering Panggil, kependekan dari SekJen), maklum dia kan sekjen abadi. Saya wakil sekjen.
  11. "Jen ini tempat belanja enak. Manajernya jago bahasa Inggris", demikian kira2 kataku waktu itu.
  12. Dia tertarik dan masuk, saya antar sampai dalam, "Miss Szilvy, my friend also need assistance". Sy lalu pergi.
  13. Saya tinggal Jen di toko itu dan sy juga titip belanjaan saya dengan harapan sy bisa keluar lihat2 yg lain.
  14. Setiap beberapa menit saya balik ke toko itu dengan maksud kalau sdh selesai bisa pulang ke hotel bareng.
  15. Berkali2 saya kembali ke toko itu dan nampaknya ada percakapan dua hamba Tuhan yg belum selesai.
  16. "Percakapan dua orang pintar", kira2 seperti itu kedengarannya sebab temanya juga tidak sederhana.
  17. Sore itu adalah sore terakhir kami di kota tua itu. Dingin menjelang malam. Kami kembali ke hotel.
  18. Jen tidak bisa menutupi kesan dalam percakapan itu, "manajer toko itu seorang pencari makna", kesannya.
  19. Kami tidur cepat malam itu karena besok pagi kami harus kembali pagi2.
  20. Pagi itu, sehabis sarapan kami bersiap menuju airport. Rupanya sang manajer mampir sebelum masuk kerja.
  21. Dia datang membawa hadiah buat Jen, sebuah buku yg kulihat berat sekali temanya.
  22. Belakangan saya dengar bahwa malam itu ia melakukan browsing dan membaca versi bahasa inggris artikel Jen.
  23. Untuk itulah dia datang pagi itu, membawa buku dan menyatakan ingin belajar tentang tulisan2 Jen.
  24. Di kalangan aktifis tarbiyah Jen dikenal sebagai penulis produktif sejak awal 90-an. Manajer itu penasaran.
  25. Tapi, pagi itu kami berpisah tanpa tahu apakah kami akan bertemu lagi. Negeri kami berjarak jauh.
  26. Bersambung..., Jen dan Istrinya: Pencarian

Pencerita: Fahri Hamzah
Comments