Warta‎ > ‎Kolom‎ > ‎

Jen dan Istrinya: Jatuh Cinta

diposting pada tanggal 29 Des 2013 23.58 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui1 Jan 2014 22.24 ]

Kisah sebelumnya, Jen dan Istrinya: Pencarian.
  1. Szilvia harus dilihat sebagai sosok yg juga tidak gampang menerima ide2 Islam. Latarnya rumit dan sangat rasional.
  2. Karenanya juga gak gampang debat2 itu dimenangkan oleh Jen. Email pertama yg ditunjukkan ke saya berat.
  3. Jen memang terbantu krn cukup memahami sejarah peradaban barat dan komplikasi panjangnya dgn Islam.
  4. Maklum dulu beliau yg sering mengisi materi Gozwul Fikri di kalangan aktivis dakwah.
  5. Jen rupanya juga memberikan beberapa buku keislaman yg ditulis utk memasuki pemikiran Barat.
  6. Misalnya buku Khurshid Ahmad bersama bbrp pemikir lain "Islam, Its Meaning, and Message". Buku ini sangat dikenal.
  7. Sebagai penggemar filsafat, Jen juga mengirim buku yang terkenal di barat. Jen sy tahu senang Eric Fromm.
  8. Jen merekomendasikan buku2 Eric Fromm sprt The sane Society dan The Art of Loving.
  9. Erich Fromm kita tahu adalah seorang humanis filsuf jerman abad 20 yg dikenal sebagai penganut mazhab frankfurt.
  10. Meski sangat singkat korespondensi dan setumpuk buku filsafat dan alquran bahasa Hongaria cukup berkesan.
  11. Dalam waktu singkat Szilvia Fabula melalap buku pemberian atau rekomendasi kawan korespondensinya.
  12. Pergulatan pemikirannya selama ini rasanya terjawab dlm banyak buku2 sprt itu disamping Qur'an tentu saja.
  13. Szilvia sdh membaca Qur'an dan terjemahannya smp khatam sblm akhirnya memeluk Islam.
  14. Bacaan Alquran bersama buku2 lain membuka jalannya menemukan kebenaran dan memantapkan keyakinan dlm hidupnya.
  15. Tentu faktor2 pemikiran saja tdk dgn sendirinya mendorong org masuk Islam... biasanya ada faktor emosi juga.
  16. Faktor emosi tentu bersumber dari seseorang. Atau suatu kejadian. Inilah yang saya duga banyak melibatkan Jen.
  17. Saya mendengar suatu ketika ayah Szilvia menderita kanker mata dan dioperasi dgn menggunakan mata buatan.
  18. Ia tergoncang tanpa pegangan. Silvia memang sudah menamatkan AlQuran dan kitab filsafat... tapi tetap abstrak.
  19. Saat itulah Szilvia berjanji jika ayahnya bisa sembuh total makanya ia akan segera menyatakan diri Muslim.
  20. Dan itulah yg terjadi... ayahnya sembuh total dan sehat hingga skrg... bahkan sdh 3 kali ke Indonesia.
  21. Kesembuhan Total ayahandanya tercinta nampaknya banyak menambah keyakinannya dalam berTuhan.
  22. Selama ini keyakinan itu seperti datang dan pergi... seperti ada dan tiada atau seperti penting tdk penting. Kini beda.
  23. Menurut kisahnya, 31 januari 2006 Szilvia bersyahadat di Islamic Centre Budapest... Jen tidak diberitahu.
  24. Szilvia nampaknya ingin mengalaminya sebagai sesuatu yang murni. Belakangan banyak kisah lucu dlm pencariannya.
  25. Sambil mencari arti Islam maka yang dicari juga adalah tentang siapakah Jen?
  26. Lelaki yang kini jadi sahabat pena-nya dan mengirimnya buku masih menyimpan tanda tanya.
  27. Salah satu artikel yang ia browsing bahkan menyebut Jen sebagai tokoh fundamentalis radikal.
  28. Tentu itu beda dengan apa yg dia temui di inbox emailnya. Seorang lelaki terbuka, pembaca filsafat dan sejarah barat.
  29. Tapi baginya sekarang dia sdh menjadi seorang Muslimah... dengan keyakinannya sendiri. Jen akhinya diberitahu.
  30. Jen tentu kaget karena dia tak menyangka keputusan besar diambil Szilvia secepat itu. ALLAHU AKBAR.
  31. Szilvia menurut ku bukan pencari kebenaran biasa. Dia gigih dan determinan. Aku dengar dari Jen.
  32. Hari2 setelah bersyahadat dan apalagi setelah memakai jilbab maka Budapest menjadi tak mudah baginya.
  33. Ia harus menjawab banyak pertanyaan dari keluarga dan orang2 terdekatanya. "Mi történt veled Szilvia?"
  34. Itu sy translate, "Ada apa denganmu Szilvia?" Kira2 dalam bahasa Hongaria itu pertanyaan terbanyak baginya.
  35. Szilvia bukan kalah. Dia bahkan meyakinkan banyak orang dengan agama Islam. Dia aktif di Islamic Center.
  36. Sampai setelah bermukim di Jakarta dia masih terus meyakinkan keluarga dan sahabatnya terdekat.
  37. Tahun lalu, Szilvia meyakinkan neneknya tercinta bersyahadat... Alhamdulillah sebelum Allah kemudian memanggilnya.
  38. Ia mungkin membaca sebuah hadits yang menyebutkan betapa besarnya pahala bagi yang mengantarkan hidayah.
  39. Lebih baik dari dunia dan Isinya. Ia merasakan proses pencarian itu dan ia ingin mengantarkan orang yg dicintainya.
  40. Pencarian Szilvia yang mendalam dan ditemani Jen. Adalah kisah penting untuk dituliskan.
  41. Ini bagian ketiga, tentang sesuatu yang kita sebut "jatuh cinta". Tentang sesuatu yang tak mungkin berpura2.
  42. Tapi siapakah yang "Jatuh?" Siapakah yang memulai dan siapakah yang terjerumus mengagumi atau "merasa".
  43. Bagian ini seperti sulit, kecuali kalau kita mengenal Jen sejak lama. Aku mengenalnya sejak kuliah di UI.
  44. Jen sejak awal menonjol... ketekunannya membaca sudah kusaksikan sendiri dan kemampuannya menulis dan bicara masyhur.
  45. Tapi mungkin yang orang tidak tahu banyak adalah kemampuannya mengendalikan diri dan emosinya. Itu rahasianya.
  46. Maka sebagai sekjen partai 4 periode itulah yang nampak. Sekretariat dan daya dukung kepada partai terkendali.
  47. Soal cinta, dia menulis "serial cinta" setelah menulis "serial kepahlawanan". Tapi apa yg ia tulis?
  48. Ia bukan perangkai kata omong kosong... tulisannya itu mengakar pada karakter dan kepribadiannya.
  49. Jen telah lama menjurubicarai pikirannya dan sebaliknya pikirannya menjadi jubir bagi karakternya.
  50. Maka jadilah dia pesona di mata banyak orang dan aku yakin itu yang terjadi pada Szilvia Fabula.
  51. Gadis itu mencintainya entah kapan mulainya. Dia tak mungkin jujur kepadaku. Ini soal di antara mereka.
  52. Tapi ini tentu jadi cerita di antara kami karena pernyatan cinta Szilvia tak mungkin dijawab senda gurau.
  53. INI SOAL SERIUS sebab ujung dari percintaan yang dewasa adalah pernikahan. Sesuatu yg tak gampang.
  54. Sepanjang bulan2 dmn diskusi itu berlangsung, Jen tdk mengira kalau gadis mualaf itu akan jatuh cinta padanya.
  55. Sebab sejak awal Jen selalu menyebutkan kalau dia sdh berkeluarga dan punya 7 anak... (ampun deh)
  56. Jen BUKAN orang yang suka sembunyi atau samarkan identitas semisal mengaku bujang.
  57. Karenanya sejak awal Jen yakin itu tdk akan masuk dlm logika org Eropa seperti Szilvi menjadi istri kedua.
  58. Apalagi gadis mualaf itu tentu punya banyak pilihan di negerinya sendiri ketimbang jd istri kedua.
  59. Sekali lagi, buat Jen situasi ini sangat tidak mudah... berdasarkan situasi waktu itu tdk sederhana.
  60. Ada percampuradukan masalah ditingkat Jen, Szilvia, keluarganya dan juga posisinya sebagai pejabat.
  61. Sesungguhnya Jen kasihan dengan Szilvia...bagaimana keputusan besar itu ia buat...apa dia ngerti resiko?
  62. Apa dia ngerti bahwa dia harus menyesuaikan diri di Indonesia yang nun jauh dari keluarganya Hongaria?
  63. Pada diri Jen ada banyak pertanyaan, Bgmn hrs meyakinkan Anaway dan ketujuh anak2nya?
  64. Ini tetap sangat berat meski sy tahu dia tdk pernah menyembunyikan hal2 sprt ini dr keluarganya.
  65. Dalam percakapan kami sebelum itu kalau kami bercanda, Anaway selalu menjawab ketus, "ngomong doang!".
  66. Tahu kan artinya, namanya juga laki2, kalau di tantang balik memang kami keok. Sampai sekarang aku masih sering keok.
  67. Anaway luar biasa, entahlah bagaimana ia bisa sampai pada keputusan mengijinkan perempuan lain ada dirumahnya.
  68. Jen masih punya banyak masalah Bgmn pula hrs meyakinkan kedua orangtuanya yg msh hidup dan tinggal bersamanya?
  69. Bukankah papa daeng dan mama daeng (begitu mereka menyebut orangtuanya) adalah pasangan monogami?
  70. Karena aku ingat diriku sendiri, ibuku karena sayang dengan mantu maka bercandapun aku kena plotot.
  71. Jadi istri kita sebagai mantu yang baik perasaannya dijaga mertuanya. Tamatlah riwayat kita. Mau apa lagi? Hehe...
  72. Itu tentu juga terjadi pada Anaway dan itu yang mempersulit langkah sang SekJen.
  73. Dan sebagai sekjen, bgmn hal ini hrs dibicarakan di internal partai? Khususnya dgn ketua Majelis Syuro?
  74. Dan akhirnya sebagai politisi, bgmn ini akan mempengaruhi jalan hidup dan karir politiknya? ini tentu dipikirkan.
  75. Jadi, Perkawinan kedua ini pd dasarnya benar2 tdk terbayangkan bg Jen. Terlalu banyak masalah. Ribet mas...
  76. Hampir tdk terlihat celah bagi Jen utk membuat perkawinan ini jd kenyataan. Penulis cinta limbung...
  77. Daftar kendalanya terlalu banyak, melebihi kemampuannya utk melampauinya. Kalau saya sih mending lempar handuk.
  78. Szilvi sendiri rupanya tidak mudah juga sampai pada kesimpulan, keberanian menyatakan cinta.
  79. Sebab dia juga tahu konsekuensi dari perasaannya. Ini termasuk perasaan yang berbahaya. Subversif!
  80. Tapi sejak awal memang sdh tampak kagum dgn Jen, tp cintanya mungkin berkembang perlahan selama diskusi2 itu.
  81. Perkenalannya dgn Jen nampaknya juga penemuan makna hidup yg dia cari tp sekaligus penemuan pasangan hidup... hehe...
  82. Menemukan makna hidup pd seseorang yg menjalani makna itu dlm kesehariannya... mungkin itu awalnya...
  83. Tp menjadi istri kedua? Bgmn itu mungkin? Szilvia jg bingung dan seperti Jen jg tdk punya bayangan. Nah loh...
  84. TAPI, mungkin buat Szilvia bertemu Jen seperti menemukan permata yg hilang, sayang kalau hilang (Gubraaak).
  85. Bagi org Eropa menemukan teman bicara yg sepadan memang merupakan karunia, apalagi yg terasa tulus dan setia.
  86. Budapest, kota tempat dia sehari2 hidup, orang2 seperti tak lagi bertegur sapa. Mungkin juga karena gak kenal.
  87. Entahlah sebab perasaan tentang masa kecil, kota kelahirannya di Bakescaba dan Budapest tempat ia kerja semua berpengaruh.
  88. Jadi ketemu manusia jenis lain macam kami ini juga anugerah buat dia. Aku, Jen, Irel sang kakak dan Aboe si cucu nabi.
  89. Selain Jen, kamilah yang sering ditemui Szilvia... Jen kami yakini gak boleh jalan sendiri... ntar ilang.
  90. Kecil2 gitu jangan maen2 dia sekjen partai Islam terbesar di Dunia... hehe... (aku mulai ngantuk nih...)
  91. Tapi ini tentang Szilvia, Ia merasa mendapatkan karunia itu... tp jalan menuju pelaminan benar2 tdk terbayangkan.
  92. Tapi Apakah Szilvia tak memikirkan Anaway? Apakah cinta tak mempertimbangkan perasaan orang lain?
  93. Ini memang bukan soal Szilvia, ini soal Jen dan Anaway. Apakah ada masalah di antara mereka? Apakah ini cheating?
  94. Inilah yang harus dibikin clear... aku tidak tahu dimensi diskusi antara Anaway dan suaminya.
  95. Setahuku, mereka tidak pernah pecah... merekalah pasangan yang serasi dengan anak yang banyak. Ini keluarga happy.
  96. Bahwa mereka berdiskusi soal poligami sebagai wawasan aku tahu. Sebab di kalangan aktivis itu biasa.
  97. Dan bagiku sendiri di dalamnya ada misteri dan ada banyak salah paham. Cie... kayak berani aja... hehe...
  98. Becandaan kayak gitu itu ya termasuk salah paham... sebab ada yg melihat poligami untuk gagah-gagahan aja...
  99. Terutama laki2... kalau dah ngomong poligami dan ngomong sunnah Nabi SAW, dah kayak dia yang nabi... dan sanggup.
  100. Sunnah yang lain nggak pernah dikerjain. Giliran poligami duh... "Ini sunnah Rosul dan tidak boleh ditolak!".
  101. Biasanya pakai nambah dalil segala, " Barang siapa yang menolak sunnah Rosul maka tidak termasuk ummatnya".
  102. Bener sih, tapi kan jadi maksa... makanya kan poligami hampir gak ada kisah suksesnya... ini kan soal cinta juga lah.
  103. Dialog searah yg memaksa tidak terjadi di rumah Jen. Mereka semua sekeluarga terlibat diskusi unik. Mereka terbuka.
  104. Karena itu Anaway sebagai istri dan anak-anaknya semua terlibat. Ini soal bersama. Tak boleh ada yg terpaksa.
  105. Sejak awal perkenalan, Jen sdh menceritakan soal manajer toko souvenir yang dia temui itu kepada Anaway.
  106. Cerita yang di maksud tentu soal pencariannya dan diskusi yang berlanjut... itu biasa, anak2 juga nimbrung.
  107. Justru itu harusnya menjadi bagian dari keterbukaan... "Gw perlu tau dong, laki gw ngobrol ma siapa", itu logat Anaway.
  108. Tentu perempuan tetap perempuan, tapi Anaway juga punya latar keluarga yang besar. Seperti umumnya Sulawesi.
  109. Di keluarga Anaway isu poligami ini bukan barang baru, krn kakeknya dr ibu jg beristri 3 dan tinggal serumah.
  110. Ayah Anaway, alm Thoha Mansyur adalah mantan anggota DPR RI selama 17 thn dari fraksi Golkar (1971-1987).
  111. Thoha Mansyur adalah salah seorang tokoh perintis pemekaran Sulawesi Tenggara dr Sulawesi Selatan.
  112. Beliau jg ikut sbg salah satu perintis berdirinya bbrp perguruan tinggi Negeri di Papua dan Sulawesi.
  113. Ayahanda Anaway lulus dr Gajah Mada dan kawan seangkatan almarhum Amir Murtono,mantan ketua Umum Golkar.
  114. Bahkan pd hari pernikahan Jen dan Anaway, pak Amir Murtono memberi sambutan mewakili keluarga Anaway.
  115. Bersama almarhumah istri pak Amir Murtono, ibunda Anaway jg ikut mendirikan pengajian Al Hidayah di bawah Golkar.
  116. Jadi Anaway Irianti Mansyur itu berasal dr keluarga politik. Bahkan Golkar sebagai kekuatan utama Orde Baru.
  117. Jen dan Anaway menikah sebagai sesama aktivis dakwah saat mrk msh sama2 kuliah... (dari sononya dah nekat).
  118. Jen kuliah di Fakultas Syariah LIPIA, sementara Anaway di Universitas Negeri Jakarta yg dulu bernama IKIP.
  119. Mrk hanya berkenalan sepekan dan Jen lgsg melamar Anaway. Keluarga Anaway tentu saja kaget setengah mati.
  120. Tp entah dgn cara bagaimana Anaway akhirnya berhasil meyakinkan keluarganya dan perkawinan mrk berlangsung 3 bln kemudian.
  121. Mrk menikah thn 1992, hingga kini mrk dikarunia 4 org puteri dan 3 org putera. Di awal nikah dulu, sy bertetangga.
  122. Anaway dan suaminya dengan latar keluarga seperti itu dari dulu sama, mereka tak mengalami perubahan berarti.
  123. Memang anak tambah banyak. Ini memang khas aktifis. Dugaan saya karena mereka pasangan yg terlalu akrab.
  124. Umumnya kan mereka tidak mengenal hiburan dan akhirnya... isteri jadi korban... (hehe becandaaaa).
  125. Banyak pasangan yang meyakini dan senang melihat anak banyak... saya kira itu hak pribadi dan keluarga.
  126. Jen dan saya kira Anaway termasuk yang senang banyak anak. Saya lupa kalau gak salah Anaway hamil 10 kali.
  127. Itu pula yang terjadi sekarang, Anaway benar2 memiliki anak 10, karena Szilvia sudah melahirkan 3 anak.
  128. Apakah karena itu Anaway mudah takluk dan menerima Szilvia tinggal di rumahnya?
  129. Sebenarnya faktor yg akhirnya membuat Anaway mengizinkan Jen menikah adalah kepercayaannya pada takdir.
  130. Ini memang rumit karena di zaman materialisme sekarang, apa masih ada yang mau percaya takdir? Kenapa tidak melawan?
  131. Anaway yakin saja bahwa kalau memang ada takdirnya, tdk ada yg bisa menghalangi Jen menikahi Szilvi.
  132. APA YANG MAU DILAWAN? trus untuk apa melawan? Untuk ego? Emang hidup bisa kita atur semua oleh kita?
  133. Aku juga mencoba membaca kenapa Anaway, perempuan bugis ini bisa tidak melawan? Apa kek gitu...
  134. Aku teringat nenekku Hajjah Tampawan Hasan. Perempuan Mandar. Aku tak tahu ia isteri ke berapa... belasan.
  135. Menurut cerita, kakek kami bersaudara... pengelana. Dan dimana mereka berhenti, di situ mereka menikah.
  136. Maka sepanjang Sunda Kecil mereka menikah dan "meninggalkan jejak keluarga": Bali, Lombok, Sumbawa.
  137. Tibalah mereka di Sumbawa pada perhentian ke-3 mereka menemui Nenekku yang masih belia. 15-17 tahun menurut cerita.
  138. Kakek kami sudah berusia 60 tahun atau jelang 60-an. Suatu perbandingan umur yang mencolok. Itulah zaman.
  139. Kakek dari abah menikahi gadis Sasak dan kakek dari ibu menikahi Datuk Tambawan, gadis Mandar anak opas hasan.
  140. Pernikahan dengan gadis Mandar itu melahikan ibuku Nurjannah sebagai anak pertama, anak perempuan.
  141. Zaman itu, ini berita buruk. Sebab rupanya salah satu yang membuat kakekku berkelana adalah karena anak perempuan.
  142. Konon, setiap anak perempuan pertama lahir maka kakek memutuskan pindah rumah... dia kecewa atau apa tak jelas.
  143. Saya jadi mengerti kenapa begitu banyak istrinya dan kenapa umumnya anak yg ditinggal perempuan.
  144. Saya pernah mengelilingi semua anak kakekku di Lombok. Umumnya mereka bibiku dan tak sedikit dalam keadaan sulit.
  145. Sekarang kita kembali ke gadis Mandar yang kampung nya tak jauh dari kampungnya, Jen atau Anaway. Dia beda!
  146. Ada satu adegan yang sering diceritakan keluarga. Karena ini menjadi alasan kenapa nenekku paling banyak anaknya.
  147. Kakek mulai menunjukkan gelagat tidak betah dan nenek mulai mengerti situasi dalam keadaan menyapih bayi pertamanya.
  148. Suatu pagi, kakek pamit. Dan nenek yang sedang memeluk bayinya (ibuku sekarang masih hidup alhamdulillah).
  149. Nenek menunjukkan reaksi tidak suka. Tapi kakek seperti memaksa. Maka, saat itulah keluar reaksi monumental nenek.
  150. Dia rupanya memegang belati, dan ibu muda belum 20 tahun itu mengacungnya sambil memeluk bayi yg menangis keras.
  151. Dia mengancam suaminya, "Berani keluar rumah, perutmu aku robek!". Kalimat itu pecah di antara tangis ibu dan bayinya.
  152. Sejarah kini mencatat, kakek tak "keluar rumah" sampai akhir hayatnya dan nenekku memberinya banyak anak.
  153. Aku pengagum nenek dan ibuku. Aku pengagum perempuan kuat. Dalam kerangka itu aku lihat Anaway. Dia hebat.
  154. Aku bisa mengerti sikap Datuk Tampawan karena ia melihat situasi. LELAKI TUA INI HARUS DISTOP. Aku yakin itu cinta.
  155. Mungkin cinta nenek tak banyak yang paham, melampaui zaman. Dia hebat. kelak ketika Masyumi masuk ke Sumbawa, nenek jadi Jurkam.
  156. Jadi, jika poligami adalah jalan agama, maka jodoh juga adalah ketentuan Allah. Itulah yang kutahu dari Anaway.
  157. Dlm percakapan dgn Anaway kata takdir paling sering terulang. Anaway mengucapnya dengan ringan.
  158. Tdk ada perempaun yg mau dimadu, kata Anaway suatu ketika, tp kt tdk punya pilihan atas takdir yang Allah tentukan.
  159. Krn jodoh seluruhnya ada dlm takdir Allah, kt tdk pernah bisa menghindari takdir yg akan berlaku utk kt, katanya lg.
  160. Berat memang, justru karena berat tak semua orang berani melangkah... tak semua orang berani mengambil sikap terbuka.
  161. Jen dan Anaway telah membicarakan topik ini lama... awal mula sebagai pengetahuan, dan lama2 jadi kenyataan.
  162. Mrk adalah keluarga bahagia, scr sepintas sebenarnya orang akan melihat poligami sebagai indikasi ada masalah.
  163. Itu karena orang tidak tahu bahwa kepercayaan pd takdir, tradisi keluarga, konsekuensi dakwah... jd latar.
  164. Di satu sisi cinta hrs ditempatkan sbg perasaan pribadi manusia yg paling suci di tengah konteks pergerakan dan politik.
  165. Karena ini privasi, kadang sy menentang orang membicarakannya secara publik. Tapi ini jadi berita dan ini tentang Jen.
  166. Di luar itu, saya bisa berdebat dengan orang yang paling liar pikirannya bahwa ini pilihan pribadi orang.
  167. Buat apa mempersoalkan pilihan privat? Bukankah kelompok2 liberal menetang hal itu? Ayok konsisten.
  168. Bahkan kalau mau bikin perbandingan, cara Jen jauh lebih terhormat dr cara siapapun termasuk kakekku dan Sukarno, hehe...
  169. Saya hanya mau menggambarkan secara lebih natural sebagai perbandingan dari gosip media massa dan infotainment.
  170. Karena meski itu pilihan pribadi, dimensi latar dan prosesnya rumit dan kompleks.
  171. Jen pernah berita bahwa bercandaan poligami dgn Anaway di mulai thn 2000. Dalam suasana setelah kalah pemilu.
  172. Maklum orang kalah, katanya. Dan sebagai SekJen partai, ia memikul tanggungjawab. Tapi boleh dong becanda.
  173. Bahkan suatu saat tahun 2002, Jen memberanikan minta izin menikah ke ust. Hilmi (ini becanda dimensi ke-4)... hehe...
  174. Jen memang suka melayang... idenya nampak acak, tapi lama2 kelihatan teratur... ini menyebalkan.
  175. Ini orang gak ada matinye kata orang betawi. Ada aja yg dikerjakan. Gak bisa distop dan gak bisa kapok.
  176. Banyak kisah hidupnya yang unik. Anda percaya kalau ada anak kecil pergi ke puskesmas sendiri?
  177. Lalu di puskesmas dia minta di sunat. Dan tanpa pendamping dia disunat.
  178. Lalu setelah disunat, dengan burung diperban dia naik angkot pulang sendiri. Anak kecil itu Jen.
  179. Jen memang lahir di bone 45 tahun lalu. Tapi keluarganya perantau. Mereka keluarga pedagang.
  180. Sebagian dari masa kecil-nya di Ambon. Karena itu sekolahnya juga unik.
  181. Pernah di sekolah Katolik, pesantren NU dan Muhammadiyah dan lalu kuliah di LIPIA sekolah Saudi.
  182. Jangan lupa dia pernah kuliah sama sy di UI Depok S2 (gak selesai) dan juga salah satu lulusan terbaik Lemhanas.
  183. Sejak PK berdiri 1999, beliau sudah menjadi salah satu konseptor partai dan akhirnya menjadi sekjen dari 4 presiden.
  184. Maka, begitu penting posisinya di dalam. Kami para sahabat sering bertanya keras tentang langkahnya.
  185. Termasuklah soal permintaan izinnya ke ust. Hilmi itu..." Apa2an ente, Jen?". Emang punya calon? hehe...
  186. Maksud saya "Ade ape nih?". "Lu lagi berantem ame Anaway?" Dia bilang kagak. Trus? Maunya apa, ninggalin kite...?
  187. Maksud saya, bukan minta izin bareng... enak aja... tapi apa yang terjadi dengan izinnya itu? Kami bingung.
  188. Dan jawabannya itu yg nyebelin, "Minta aja izin dulu... siapa tahu diizinin kan tinggal jalan...". Nah loh.
  189. Haregene... eh partai kalah... kita semua lagi pusing.... ente juga pusing kan... tapi jangan gitu dong caranya...
  190. Keruan saja, jawaban ustadz Hilmi, "Nis, ente sekjen dan tanggungjawab ente menangkan partai pemilu 2004... fokus kesitu.
  191. Memang beliau tidak mengunci mati, karena dasarnya itu hak pribadi orang merdeka. Tapi saya mengerti situasinya.
  192. Kekalahan pemilu 1999 sangat memukul sebagian besar kader dan pimpinan partai. Bahkan ada yg kapok.
  193. Ada yang mengusulkan agar kita tidak perlu bikin partai, cukup bikin ormas dan itu lebih aman. Lebih cocok.
  194. Musyawarah memutuskan kita maju terus, dan dalam transisi dari PK ke PKS itulah kita harus fokus.
  195. Pesan pimpinan emang membuat pak sekjen fokus. Seperti tulisan di kamar SMA dulu kalau mau ujian: "No Time For Love!".
  196. Stlh itu kami memang benar2 fokus ke pemenangan pemilu agar PKS bisa eksis dan tdk terlempar dr panggung politik.
  197. Stlh meraih suara cukup besar 2004, Jen mendapat tugas tambahan untuk menjurubicarai PKS di luar negeri.
  198. PKS merasa harus membantu banyak negara memahami reformasi Indonesia dalam kerangka Islam dan Demokrasi.
  199. Itulah awalnya mengapa sy sbg wasekjen banyak menemani beliau dlm perjalanan luar negeri khususnya dunia Islam.
  200. Ceramah2 Jen di berbagai negara itu umumnya berkisar soal transisi demokrasi di Indonesia stlh reformasi.
  201. Bersambung..., Jen dan Istrinya: Jatuh Cinta (2)

Pencerita: Fahri Hamzah
Comments