Warta‎ > ‎Kolom‎ > ‎

Jen dan Istrinya: Menikah

diposting pada tanggal 1 Jan 2014 22.27 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui1 Jan 2014 23.11 ]

Kisah sebelumnya, Jen dan Istrinya: Jatuh Cinta (2)
  1. Kepalaku panas... tak bisa aku berhenti memikirkan seorang sahabat sekaligus bos
  2. Jen yang sekarang jadi Den tetap bos ku... aku panggil saja Jen... sebab kadang2 aku ingin menjadi prajurit.
  3. Iya, aku prajurit dari imajinasinya yang melayang dan aku harus melayang terkadang. Siap Jenderal!
  4. Di sela2 zikir di Baitullah Tanah Suci, aku ingin dengan niat baik menulis pernikahan Jen dan Isterinya Szilvia.
  5. Aku Ingin mengungkap kebesaran hati Anaway... tidak untuk menakuti perempuan lain. Hanya sebagai kisah.
  6. Aku ingin menulis sedikit yang kutahu tentang Szilvia yg kukenal sebagai manajer toko di Budapest.
  7. MANAJER TOKO DARI BUDAPEST (bisa jadi judul tuh)... yang kemudian menjadi muslimah pendamping Jen.
  8. AKu ingin bersaksi bahwa kisah ini bukan fiksi. Ini kisah nyata. Tentang orang2 yang meyakini takdir.
  9. Ini kisah tentang hidup yang rumit, maka kita sederhanakan saja dalam kepasrahan kepada Allah.
  10. Ini kisah tentang keberanian membuka topeng dan mencemooh kepalsuan simbolik sehari-hari yang mengangkang.
  11. Yang kusenangi dari Jen bukan nekadnya seperti dulu waktu kecil pergi ke puskesmas, khitan sendirian naik angkot.
  12. Aku senang karena dia adalah sedikit dari orang yang membuatku bisa merenung panjang.
  13. Aku, kalau sudah punya mau dan aku yakin bisa menjebol tembok batu, aku akan tabrak. Tidak peduli satu dunia.
  14. Jen adalah sedikit dari orang yang bisa membuatku belok atau bertahan sebentar. Menyuruhku berpikir ulang.
  15. Kembali ke kisah pernikahan Jendral yang rada2 mirip nagabonar. Dia ada slebornya juga (piss hehe...).
  16. Akhirnya mufakat tercapai antara Anaway, Szilvia n Jen... cinta ini hrs dibawa ke Pelaminan...(tambah popcorn).
  17. Mrk bertiga merasa mantap utk melangkah lbh jauh, wkt utk saling mengenal rasanya sdh cukup.
  18. Jangan lupa bahwa sebagian dari percakapan ketiganya juga belangsung lewat email dan kadang telepon.
  19. Szilvia dalam dialognya juga menyampaikan keinginannya melihat Indonesia. Juga ingin belajar Islam di sini.
  20. Tapi baru pada kunjungan ke-3 ke Budapest, Jen mengizinkan Szilvia datang ke jakarta. Szilvia tentu senang.
  21. Proses ini tidak semata2 demi pernikahan. Tidak ada janji pasti, istikharoh masih terus dijalankan. Kepastian dr Allah.
  22. Sprt apa akhirnya perjalanan mrk kami semua tdk tahu... cinta manusia ini sdg menanti penyelesaian takdir.
  23. Mengantisipasi semua kemungkinan itu, Jen mengajukan sebuah kesepakatan yg tdk akan merugikan siapapun di kemudian hari.
  24. Szilvia diberi kesempatan utk berkunjung ke Jkt slm 2 pkn. Selama itu Szilvia adalah tamu Jen, dan hanya tamu.
  25. Szilvia diminta bertemu dgn istri, anak2, ayah ibu, dan keluarga Jen, dan merasakan kehidupan umum di Indonesia.
  26. Jika dlm masa 2 pkn itu mrk bertiga sepakat utk lanjut, mk pernikahan itu bs dilaksanakan saat itu juga.
  27. Jika salah satu pihak tdk setuju, khususnya Szilvia atau Anaway, mk Szilvia kembali ke Budapest seperti tak pernah ada apa2.
  28. Aku tahu maksud Jen, ini soal akurasi dan perhitungan matang... ini bukan langkah sembarangan...
  29. Waktu itu aku tahu. Salah satu opsinya jika gagal dan Szilvia kembali ke Budapest, maka resiko ditanggung Jen.
  30. Jangan lupa bahwa meskipun risiko ditanggung bersama, tapi rasanya perjalanan Szilvia paling jauh.
  31. Maka jika gagal, Jen akan menanggung biaya hidup selama 2 thn (bukan bulan), sesuai dgn jumlah pendapatan Szilvia saat itu.
  32. Itu karena Szilvia meninggalkan pekerjaannya, bahkan mendapatkan tawaran pekerjaan baru yang jauh lebih baik.
  33. Saya mendengar sebuah perusahaan mobil di Eropa menawarnya dengan gaji 4 kali gaji lamanya. Tapi dia sdh bulat.
  34. Jadi dgn menanggung biaya hidup slm 2 tahun jika pernikahan batal, Jen ingin mengapresiasi pengorbanan gadis mualaf itu.
  35. Semua sepakat, dan semua deal disetujui. Tinggal melaksanakan sesuai rencana mereka bertiga.
  36. Tapi ada satu hal yang belum disampaikan dan belum selesai. Yaitu soal ijin ketua Majelia Syuro.
  37. Masih ingat kan soal izin yang ditolak tahun 2002? Kan belum ada izin baru. Lalu bagaimana caranya?
  38. Aku tahu Jen, pasti pilonnya keluar, tapi pilon yang ada hitungannya (nah loh... belom pernah denger kan?).
  39. Dengan ringannya dia menjelaskan posisinya di partai. Dan bahwa kalau ketua MS gak setuju maka semua batal.
  40. Kasarnya, meski mereka bertiga sudah sepakat, tetapi jika partai memutuskan tidak, maka semua batal.
  41. Mungkin tdk gampang bg Szilvia utk mengerti situasi itu, tp iya menerima jg sbg bagian dr proses. Dia sdh siap.
  42. Terasa betul nuansa cinta dan kepasrahan dlm proses menuju pernikahan itu. Tak ada deskripsi lain yg layak.
  43. Ada cinta manusia, ada disiplin organisasi, dan semua dibalut dlm kepasrahan kpd takdir. Kalau ada jodoh, pasti ada jalan.
  44. Ada antisipasi lain yg dilakukan Jen. Bagaimana jika pernikahan itu berantakan di tengah jalan? Mungkin saja.
  45. Jadi Jen mengajukan syarat, jika mereka menikah maka selama 2 tahun pertama, tdk ada buku nikah dan tdk ada anak.
  46. No paper no children utk 2 thn pertama adalah antisipasi kalau mrk merasa tdk cocok, krn berbagai sebab yg mungkin sj terjadi.
  47. Seandainya sblm 2 thn mrk bercerai, tdk ada masalah legal yg rumit bg mrk bertiga. Itu salah satu pertimbangan.
  48. Szilvia jg akan lbh mudah mendapatkan suami baru, krn tdk punya bawaan yang lebih kompleks.
  49. Tp jk itu terjadi, Jen akan tetap menanggung biaya hidup slm bbrp thn yg bisa mrk sepakati kemudian.
  50. Jen kelihatannya memang terlalu rigid dan antisipatif. Tp sbg org Eropa, Szilvia malah menyukai sikap itu.
  51. Ketika akhirnya Szilvia tiba di jkt, Jen menyambutnya dengan kalimat "Welcome to The Junggle".
  52. Szilvia tersenyum mendengarnya sambil bertanya knp disambut begitu? Apakah kau nervous?
  53. Kata Jen serius, "Sebab hidup tdk akan mudah bagimu dan bagi kt semua setelah hari ini". Provokator ulung.
  54. "Benar jg sih, sebab jika kita tdk jadi menikah, kita akan menanggung rindu dan kecewa dalam waktu yang lama" kata Szilvia. AMPUUN.
  55. "Tapi jika jadi menikah, kita juga akan menanggung beban hidup yang tidak ringan." Samber sang Jen, kayak dialog sinetron.
  56. Ada beban emosi, beban sosial, beban politik, dan tentu saja beban keuangan. Semua akan mereka tanggung.
  57. Perkenalan dgn keluarga Jen berjalan dgn baik sejak kedatangan Szilvia. Semua keluarga dan anak2 tak ada masalah.
  58. TAPI JANGAN LUPA, izin pimpinan partai belum keluar. Tuan sekjen sudah janji kepada kami bahwa itu syarat mutlak.
  59. Bersambung... Jen dan Istrinya: Dua Keluarga

Pencerita: Fahri Hamzah
Comments