Warta‎ > ‎Kolom‎ > ‎

Kontestasi Politik Pemilihan Gubernur Jabar

diposting pada tanggal 20 Feb 2013 20.26 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui6 Jul 2013 09.25 ]

maskot pilgub jabar
Pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung merupakan salah satu wujud pelaksanaan nilai-nilai demokrasi di
tingkat lokal, sebab demokrasi menuntut adanya suatu pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pilkada memberikan peluang bagi masyarakat untuk memilih pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang sesuai dengan keinginan mereka, yaitu kepala daerah yang memiliki kesederhanaan pribadi, visi dan misi, serta pengalaman dalam memimpin.

Pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta memberikan banyak contoh tentang apa yang diinginkan masyarakat terhadap sosok pemimpin mereka, sehingga mayoritas masyarakat Jakarta memilih pasangan Jokowi dan Ahok. Kemenangan Jokowi atas Fauzi Bowo tidak hanya didukung oleh kepopuleran Jokowi dalam media, sebab jika berbicara soal popularitas Fauzi Bowo secara pribadi juga banyak dikenal oleh masyarakat Jakarta. Akan tetapi kemenangan Jokowi dikarenakan dirinya terkenal sebagai pribadi yang sederhana, tegas, merakyat, memiliki visi dan misi, serta memiliki pengalaman keberhasilan dalam memimpin Kota Surakarta.


Meskipun Jawa Barat berbeda dengan Jakarta, namun terpilihnya Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta sepertinya akan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi pelaksanaan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Dampak tersebut adalah adanya keinginan masyarakat Jawab Barat agar provinsi ini kedepan juga dapat dipimpin seseorang yang mempunyai visi dan misi, pribadi yang sederhana, tegas dan merakyat, serta pengalaman keberhasilan dalam memimpin.

Kontestasi Politik dan Good Life

Pemilihan kepala daerah dalam era yang demokratis bertujuan untuk memilih sepasang calon kepala daerah dan wakil yang berorientasi kepada kepentingan rakyat, karenanya kontestasi politik dalam Pilkada Gubernur Jawa Barat harus diprioritaskan pada persaingan visi dan misi serta pogram pasangan calon kepala daerah agar masyarakat Jawa Barat mengetahui dan paham terhadap orientasi politik calon pemimpin mereka. Kontestasi Pilkada adalah kontestasi politik, yang apabila mengacu kepada pendapat Aristoteles bahwa “politics is a good life” maka siapapun calonnya harus paham bahwa orientasi kontestasi politik dalam Pilkada bukan hanya untuk mendapatkan kekuasaan tetapi juga bagaimana menggunakan kekuasaan itu untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.

Sayangnya masih ada pasangan calon kepala daerah dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat terlihat belum memahami hakekat dari kontestasi politik sebab masih terlihat mengandalkan image atau citra, seperti misalnya penggunaan baju kotak-kotak yang merupakan image dari pasangan Jokowi dan Ahok yang kemudian digunakan oleh pasangan Rieke dan Teten.


Meskipun tidak ada yang melarang bagi pasangan calon untuk menggunakan image dari orang lain, tetapi guna mencapai kehidupan yang lebih baik (good life) dari hasil kontestasi politik Pilkada Gubernur Jawa Barat maka pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah perlu memiliki dan mengutamakan visi dan misi, program, serta tindakan dan perilaku yang berorientasi pada kepentingan rakyat.


Kemenangan Jokowi dalam Pemilihan Gubenrur DKI Jakarta tidak ditentukan dari faktor pakaian semata sebab faktor utamanya adalah tetap pada kesederhanaan diri, visi dan misi, serta pengalaman akan keberhasilannya dalam memimpin Kota Solo. Pakaian dengan motif kotak-kotak yang sederhana pada Jokowi justeru disesuaikan dengan apa yang telah melekat pada dirinya.

Visi, Program, Prestasi dan Pengalaman Cagub

Kontestasi politik dalam Pilkada Gubernur Jawa Barat adalah yang terbesar setelah Provinsi DKI Jakarta, sebab Jawa Barat merupakan provinsi kedua setelah Jakarta yang menjadi barometer kekuatan politik nasional. Banyak partai politik berusaha untuk semaksimal mungkin memenangkan persaingan politik di Jawa Barat. Beberapa upaya yang dilakukan oleh partai politik diataranya adalah dengan menempatkan kalangan selebritis baik sebagai kepala daerah ataupun wakil kepala daerah, mengingat kalangan selibritis adalah orang yang telah populer di masyarakat sehingga diharapkan mampu membantu memperoleh suara masyarakat.

Akan tetapi dicalonkannya selebritis dalam Pilkada Jawa Barat diharapkan tidak hanya untuk meraup suara politik masyarakat, karena masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang terkenal tetapi juga membutuhkan pemimpin yang merakyat, tegas, cerdas dan visioner, sehingga dapat membawa Jawa Barat menuju ke arah yang lebih baik.


Kembali merujuk kepada keberhasilan Jokowi dalam merebut hati masyarakat Jakarta, maka keberhasilan itu bukan dikarenakan sosoknya yang populer sebagai selebritis, melainkan karena visi, prestasi dan pengalamannya sebagai seorang walikota dan sikapnya yang merakyat selama memimpin Kota Surakarta (Solo). Karena itu calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat yang ingin merebut hati masyarakat perlu merakyat, tegas, cerdas dan visioner, serta memiliki pengalaman.

Kekuasaan untuk Kebaikan Masyarakat

Ditengah kontestasi politik yang begitu ketat, Pilkada Jawa Barat harus tetap dijadikan alat dalam mewujudkan kehidupan politik yang sehat dan bersih. Hakekat meraih kekuasaan dalam kehidupan politik yang berkaitan dengan pemilihan kepala daerah harus disesuaikan dengan makna kehidupan yang demokratis, dimana diantara masing-masing kandidat harus ada persaingan yang sehat (sportif). Setiap pasangan calon kepala daerah dan wakil dituntut untuk tidak hanya berorientasi pada proses meraih kekuasaan, tetapi lebih dari itu juga dituntut untuk menjalankan kekuasaan dengan memperhatikan kepentingan masyarakat banyak.

Sebagaimana diutarakan oleh John Locke bahwa kekuasaan atau kekuatan politik dalam kehidupan demokrasi haruslah didasarkan pada upaya untuk menciptakan kebaikan
masyarakat (political power only for the public good). Apabila kebaikan masyarakat menjadi tujuan dari pasangan calon kepala daerah maka dengan sendirinya masyarakat dapat melihat mana calon yang selama proses Pilkada lebih mengedepankan moral dan etika publik, baik terhadap masyarakat maupun perilakunya terhadap kandidat lain.

Disaat banyak calon kepala daerah berusaha untuk merebut simpati masyarakat, maka masyarakat Jawa Barat sendiri disisi lain perlu berpartisipasi aktif dalam menentukan calon kepala daerah yang baik menurut pilihannya, tentu dengan mempertimbangkan kepribadian calon kepala daerah dan wakilnya, serta sikapnya yang
merakyat, tegas, cerdas, visioner dan berpengalaman.

Penulis: Yusa Djuyandi, Dosen Politik Universitas Bina Nusantara dan Mahasiswa S3 Ilmu Politik Universitas Padjadjaran
Diterbitkan di Tribun Jabar, Kamis 14 Februari 2013

Ċ
Humas PKS Coblong,
20 Feb 2013 20.26
Comments