Warta‎ > ‎Kolom‎ > ‎

Perempuan PKS dan Pengelolaan Sampah

diposting pada tanggal 10 Okt 2013 03.27 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui10 Okt 2013 03.28 ]

Sejak dilantik tanggal 16 september 2013, tentunya bukan hal mudah bagi pasangan RIDO (Ridwan Kamil - Oded Muhammad Danial, kini Walikota dan Wakil Walikota Bandung) dalam mewujudkan keinginan dan harapan masyarakat. Segudang harapan digantungkan oleh sejumlah 2.689.267 jiwa yang tinggal di 9.677 Rukun Tetangga dan 1.560 Rukun Warga di 151 kelurahan dan 30 kecamatan. Begitu banyak persoalan di Kota Kembang ini yang harus diselesaikan dalam lima tahun ke depan, yang selama ini terkesan tidak pernah dituntaskan.

Disamping infrastruktur, sektor layanan publik yang menjadi tugas Pemkot Bandung pun masih banyak yang belum optimal. Salah satunya ialah masalah sampah. Hingga saat ini, warga Bandung masih tetap dihantui bencana "Bandung Lautan Sampah", tujuh tahun silam. Sampai detik ini pun, masyarakat masih kesulitan membuang sampah karena minimnya Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan tak adanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Belum lagi, buruknya layanan air bersih yang dikelola BUMD milik Pemkot Bandung yang tidak dituntaskan Walikota pendahulunya, Dada Rosada, meski sudah menjabat selama dua periode, sejak tahun 2003 silam. 

Kini, setelah Ridwan Kamil dan Oded MD (RIDO) memimpin Kota Bandung, yang dalam pilwalkot lalu memperoleh kepercayaan 45,24% dari pemilih, sudah barang tentu ditagih janji keduanya untuk membangun Kota Bandung oleh warga. Dengan kekuatan sokongan APBD 2013 yang mencapai nilai Rp 4.264 triliun dan dengan pengelolaan yang benar dan bersih, warga Bandung sangat berharap RIDO bisa memenuhi harapan warga Bandung.

PKS, dalam hal ini adalah partai pengusung utama pasangan RIDO merasa bertanggung jawab untuk mendukung dan mengawal program-program yang dijanjikan kepada warga. Bidang Perempuan PKS turut berkontribusi aktif dalam mendukung dan menyukseskan program RIDO, salah satunya dalam hal penanganan sampah di Kota Bandung.

Laju pertumbuhan penduduk yang pesat di daerah perkotaan khususnya di Kota Bandung dan sekitarnya, mengakibatkan daerah pemukiman semakin luas dan padat. Dampak peningkatan aktivitas manusia, lebih lanjut mengakibatkan bertambahnya sampah. Pola pengelolaan sampah yang diterapkan di Kota Bandung saat ini masih berpola operasi konvensional, yaitu konsep Kumpul-Angkut-Buang. Pola ini menyebabkan tingginya beban penimbunan sampah di TPA, sehingga memerlukan tempat pembuangan yang luas. 

Kondisi kebersihan Kota Bandung saat ini, ditinjau dari sudut pandang pengelolaan sampah menunjukan kondisi yang belum bersih. Hal ini dapat dilihat pada daerah sentra kegiatan umum, seperti pasar, jalan-jalan protokol yang digunakan untuk kegiatan berdagang (pedagang kaki lima dan pasar tumpah), terminal, dan tempat-tempat umum lainnya. Fenomena umum yang sering terlihat adalah bertumpuknya sampah di beberapa lokasi TPS atau TPS liar. 

Saat ini, angka "produksi" sampah per kapita yang dihasilkan Kota Bandung adalah 2.301 liter/orang/hari. Dengan jumlah penduduk Kota Bandung sebanyak 2.270.970 jiwa, maka total volume sampah yang dihasilkan per sumber sampah pada tahun 2006 saja per hari mencapai 7.154 m3/hari. Data persentase per sumber sampah di Kota Bandung tahun 2006 menunjukkan
  • Permukiman: 65,56 %
  • Pasar: 18,77 %
  • Jalan: 5,52 %
  • Daerah Komersial: 5,99 %
  • Institusi: 2,81 %
  • Industri: 1,35 %
Dari data di atas terlihat bahwa penyumbang konstribusi terbesar dari sampah yang dihasilkan per hari di Kota Bandung bersumber dari permukiman, dengan proporsi sebesar 65,56 % atau 4.691 m3/hari bila dihitung dari nilai total.  Dilain pihak, Daerah Komersial hanya menyumbang sebesar 5,99 % dari keseluruhan sampah yang dihasilkan per hari. "Produksi" sampah sebesar 18,77 % atau sebesar 1.343 m3/hari disumbang oleh pasar-pasar tradisional yang sebagian besar komposisi sampah yang dihasilkannya berupa sampah organik yang bersifat basah.

Produksi sampah terkecil justru dihasilkan oleh industri, yang menyumbang hanya 1,35 % dari total produksi sampah. Bila dilihat dari hasil laporan tahun 2006 tentang rekapitulasi data pengangkutan sampah dari tiap bulan, maka volume sampah yang terangkut selama satu tahun sebesar 478.414 m3 atau sekitar 1.805 m3/hari.

Adapun permasalahan yang dihadapi untuk mewujudkan kota yang bersih terletak pada aspek masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang pemilahan sampah dan upaya menjadikannya sesuatu yang lebih banyak manfaat bahkan bernilai ekonomi tinggi. Untuk itu, Perempuan PKS turut berkontribusi nyata dalam hal penanganan hal ini, dengan mengembangkan Sistem Bank Sampah.

Caleg PKS Coblong Ibu Runingsih ikut menyaksikan kegiatan Bank Sampah
Perempuan PKS melalui Pos Eka Salam (Pos Ekonomi Keluarga Sahabat Alam) RW 12 Dago. Menyulap sampah jadi rupiah, mau?

Penanganan sampah dengan Sistem Bank Sampah sebenarnya merupakan kegiatan peduli lingkungan berupa penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya penanganan sampah dengan mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat terhadap sampah. Cara pandang bahwa sampah yang harus dijauhi atau dimusuhi, sekarang didekati dengan mengolah, memanfaatkannya serta menjadikannya Rupiah dengan cara ditabung di Bank Sampah. Dengan demikian diharapkan masyarakat nantinya tidak membuang sampah disembarang tempat, terutama pada sungai ataupun saluran drainase.


Penulis: Runingsih
Comments