Warta‎ > ‎

Pojok Inspiratif


Pojok Inspiratif akan berisi tulisan-tulisan inspiratif, quote-quote positif. Selamat terinspirasi...

Umat Ini Seperti Tubuh

diposkan pada tanggal 11 Jan 2016 18.47 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui11 Jan 2016 18.49 ]


Umat ini seperti tubuh
"Tubuh manuasia itu ada kepala, ada tangan, ada kaki, ada semuanya. Kalau saya tanya mana yang paling hebat, mungkin semua mengatakan kepala. Kemudian pertanyaan, apa kepala itu hebat? Bayangkan kalau kepala tidak ada kaki, dada, dan tangan. Hebat atau menakutkan? Apalagi kepalanya tadi tidak ada mata, tidak ada hidung. Lari juga orang. Terus yang hebat? Ternyata semuanya hebat. Bahkan yang paling bawah itu, yang memikul beban, mungkin dialah yang paling mulia di sisi Allah SWT".

Habib Salim Segaf Al Jufri
(Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera)

Refresh Your Day

diposkan pada tanggal 1 Jan 2014 22.13 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui1 Jan 2014 22.14 ]


ilustrasi buku
"Manusia Seperti Sebuah BUKU...."

Cover depan adalah tanggal lahir.
Cover belakang adalah tanggal kematian.

Tiap lembarnya adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yang kita lakukan.

Ada buku yang tebal, ada buku yang tipis. 

Ada buku yang menarik dibaca, ada yang sama sekali tidak menarik... :'(

Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di-'edit' lagi.

Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih, baru, dan tiada cacat.

Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Allah SWT selalu menyediakan hari yang baru untuk kita :)

Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya.
Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita kedepannya, sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkan-Nya.

Terima kasih Allah SWT untuk hari yang baru ini... O :)

Syukuri hari ini.... dan isilah halaman buku kehidupanmu dengan hal-hal yang baik semata.

Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu bertanya kepada Allah SWT, tentang apa yang harus ditulis tiap harinya.

Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini sebagai pribadi yang berkenan kepada-Nya.

Dan buku kehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak-anak kita dan siapapun setelah kita nanti.

Selamat menulis di buku kehidupanmu,
Menulislah dengan tinta cinta dan kasih sayang, serta pena kebijaksanaan...

Kecerdasan Sejati

diposkan pada tanggal 21 Okt 2013 22.58 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui21 Okt 2013 22.59 ]


ilustrasi kematian
Setiap orang punya potensi berpikir yang berbeda-beda. Uji, tes, riset, teori, dan berbagai penemuan tentang kecerdasan manusia sangat beragam, yang jelas semakin kemari semakin detil.

Hanya saja, apa yang harus kita lakukan setelah tes dan kita tahu kecerdasan macam mana, itulah yang terpenting. Potensi tanpa digembleng atau diasah hanya akan menjadi stok yang makin lama makin kadaluarsa. Tapi, potensi yang bisa tumbuh akan membuat kapasitasnya tambah banyak dan akan melahirkan berbagai prestasi.

Jadilah seperti dokter, insinyur, atau komandan bagi tipe analis. Jadilah seperti pemimpin, trainer, atau psikolog bagi tipe perasa. Jadilah seperti atlet, berkarir militer, atau saudagar bagi tipe rajin. Jadilah seperti sutradara, arsitek, atau pengusaha bagi tipe kreatif. Dan Jadilah seperti aktivis, musikus, atau cheft (koki masak) bagi tipe naluri.

Muncul satu pertanyaan, jika pun sudah sukses dengan bintang terang sesuai kecerdasan utama seseorang, kenapa bintang terangnya hanya pada individunya, tapi tak berhasil menyinari keluarganya, lingkungannya, bahkan tak berhasil menjadi bintang yang bersinar kekal, dalam arti bintang terangnya mengantarkannya kelak bahagia di syurga?

Cek kondisi riil. Betapa banyak akademisi bahkan pejabat kampus yg terlibat KKN? Susah-susah menjadi apoteker, ada lho yang berbohong dengan sekian persen obat tak sesuai. Buktinya obat bekas itu laku kan? Betapa banyak dokter yang mengejar gemilangnya bonus dengan asal meresepkan antibiotik? 

Ketua MK saja sudah tertangkap KPK, lalu bagaimana dengan penegak hukum yang berada di bawahnya? Itu dimensi moralnya yang tidak terang. Status personalnya sudah terang, tapi kebusukan moralnya lama kelamaan juga terang, yang ini malah menghapus terang status personalnya.

Belum lagi, betapa banyak yang sukses mengejar bintang terang profesi, tapi tumbuh kembang anaknya tertinggal. Orang tua berpikir bahwa uang itu tujuan utama dan ketertinggalan anaknya bisa dibayar dengan mencari sekolah yang paling mahal. Dan hal itu terjadi hari ini. 

Penulis bertemu dengan kepala sekolah TK swasta ternama di Bandung. Uang pangkalnya saja sudah seperti nominal uang kuliah. Akan tetapi beliau curhat, "Kenapa ortunya sukses di karir, tapi anaknya banyak yang tertinggal tumbuh kembang?"

Penulis jadi merenung, "lalu apa sih kecerdasan sejati yang membuat bisa sukses semua?" Bukan hanya sukses diri, tapi juga keluarga dan anak tambah sukses, lalu menjadi teladan disekitarnya, bahkan dengan profesi yang dimilikinya ia bertambah soleh dan menambah kunci-kunci masuk syurga-Nya?

Ternyata, dimensi tanggung jawab tak selesai hanya sukses seorang diri. Dimensi tanggung jawab juga untuk sukses keluarga dan masyarakat sekitar, bahkan sukses dunia juga harus sukses akhirat. Lalu jika begitu apa kecerdasan sejati yang bisa membuat semuanya itu jadi nyata? 

Sang manusia teladan, Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan bahwa manusia yang paling cerdas adalah yang paling ingat mati. Jadi, kecerdasan sejati adalah kecerdasan apa pun yang bisa membuatnya terus ingat mati

Salam Syukur.

Kuadran Syukur

diposkan pada tanggal 21 Okt 2013 00.11 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui21 Okt 2013 00.11 ]


Mensyukuri nikmat itu adalah kewajiban. Anehnya, banyak yang terlena jika sudah dapat nikmat, alih-alih bersyukur. Mudahnya, hal ini dapat dikisahkan dengan seorang penikmat koin. 

Sang penikmat koin uang ini sedang berada di lembah di bawah tebing jurang. Temannya yang di tebing jurang ingin memperingatinya bahwa sebentar lagi akan longsor. Teriakan tak akan sampai, kecuali ada benda yg bisa jatuh dan dijadikan isyarat. Berhubung punya koin banyak, ia menjatuhkan pada penikmat koin yang tak lain adalah temannya juga. Tapi dasar karakter penikmat koin, bukannya melihat ke atas siapa yang memberinya, tapi ia malah mengantonginya tanpa menoleh sedikit pun ke atas. Diulang terus sampai koin habis, tapi tetap saja reaksinya tetap mengantongi koin yang tambah banyak. 

Karena situasi sudah genting dan koin habis, teman yang di atas punya akal, mungkin koin bukan pengingat yang paling kerasa. Ia coba melempar sebongkah batu dan jatuh di kaki temannya. Ketika batu sudah di kaki, barulah ada teriakan, "Aduh... Siapa ini yang melempar batu.." sambil menoleh ke atas.

Banyak contoh riil kasus seperti ini. Betapa banyak pemimpin kampus ternama atau rektor yang kemudian ketika jadi pejabat atau menteri akhirnya lupa bersyukur, sehingga harus kena batu dan tinggal di penjata tipikor. Jika pemimpin pendidikan saja seperti itu, apalagi yang lain, tentu bisa kebayang. Ini adalah tipikal manusia paling banyak dalam keterlenaan. Terlena adalah jenis kuadran syukur yang ternyata dihuni paling banyak manusia. 

Maksudnya, garis sumbu X  kita sebut daya nikmat. Sumbu X postif berarti bertambahnya nikmat. Sumbu X negatif berarti berkurangnya nikmat.

Karena manusia diperintahkan bersyukur, sumbu Y kita anggap kewajiban bersyukur. Sumbu Y positif berarti mau bersyukur, dan Y negatif berarti tak mau bersyukur. Jadi, letak terlena adalah pada Kuadran IV, yakni bertambahnya nikmat malah membuat enggan bersyukur.

Karena bersyukur itu wajib, maka agar manusia mau bersyukur dikurangi saja nikmat yang diterimanya. Walhasil, jika sedang pailit, kena musibah barulah manusia mulai mau menengok ke atas untuk melihat, ternyata nikmat selama ini ada Yang Memberikan kepadanya, dan tatkala tak mau bersyukur, jadinya berkuranglah nikmatnya. Kita sebut ini Kuadran II, berkurangnya nikmat barulah menjadi pengingat supaya ia mau bersyukur. Kuadran II berarti bisa kita sebut teringat.

Yang agak susah menempuhnya karena melawan arus kebanyakan adalah Kuadran I. Tambah nikmat, tapi tetap bisa tambah syukur. Orang seperti ini berarti hatinya hidup dan ada kedekatannya dengan Yang Maha Pemberi Nikmat, tak bisa digadai oleh tumpukan kenikmatan. Kita sebut saja Kuadran I ini dengan tahu diri.

Lalu pastinya, terujinya seseorang untuk benar-benar terus bersyukur adalah jika nikmat terus berkurang, bahkan bisa jadi bertubi-tubi, tapi ia tetap mau bersyukur, bahkan tambah besar rasa syukurnya. Ini berarti di Kuadran III. Berat memang jika kita pahami, tapi buahnya akan besar berlipat. Bukankah sudah dijanjikan Siapa yang mau bersyukur akan Aku tambahkan nikmat dari-Ku

Jadi, ini hanya ujian saja, karena datangnya nikmat yang berlipat akan segera hadir dan itu pasti.

Sahabat, janganlah kita terbuai dalam keterlenaan, sehingga kita hanya mengingat-Nya hanya ketika nikmat dari-Nya hilang. Karena bisa jadi kita tiada lagi saat dalam keterlenaan. Jangan sampai!

Mari kita besarkan kedekatan dengan-Nya, sehingga jika tertimbun nikmat, maka radius terdekat dengan kita tetaplah kepada Sang Pemberi Nikmat tersebut. Dengan demikian, saat nikmat berkurang, itu pun tak jadi soal, karena ketika kita lebih dekat dengan Sang Pemberi Nikmat, kita tetap bersyukur dan tambah erat doa dan kedekatannya, karena kita sedang menunggu janji-Nya untuk memberi nikmat yang bisa jadi akan lebih besar. 

Salam Syukur.

Boleh Ayah Minta Kalungmu?

diposkan pada tanggal 11 Okt 2013 02.18 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui11 Okt 2013 02.18 ]


kalung berlafal Allah
Di suatu malam seorang ayah membacakan cerita untuk anak perempuannya. Setelah membacakan cerita, sang ayah bertanya kepada anaknya, "Nak, apa kamu sayang Ayah?" Si anak menjawab, "Tentu saja aku sayang Ayah". Ayahnya tersenyum lalu bertanya, "Kalau begitu, boleh Ayah minta kalungmu?" Lalu si anak menjawab, "Ayah, aku sayang Ayah, tapi aku juga sayang sama kalung ini". Lalu Ayahnya berkata, "Ya sudah tidak apa-apa, Ayah hanya bertanya saja". Sang ayah pun lalu pergi.

Di malam berikutnya selama 3 hari berturut-turut, ayahnya menanyakan hal yang sama dan si anak pun menjawab dengan kata-kata yang sama. Si anak berpikir sambil memegang kalung imitasi kesayangannya itu, "Kenapa tiba-tiba Ayah mau kalung ini? Ini kalung yang paling aku sayangi, kalung ini pun pemberian Ayah juga".

Malam berikutnya, sang Ayah menanyakan hal yang sama, lalu si anak berkata, "Ayah, Ayah tahu aku sayang sama Ayah dan juga kalung ini. Tapi kalau Ayah mau kalung ini, ya sudah aku berikan ke Ayah".

Si anak memberikan kalungnya dan ayahnya mengambilnya dengan tangan kiri, sedangkan ia memasukkan tangan kanannya ke saku kanan dan mengambil kalung berbentuk sama namun emasnya asli. Ayahnya mengenakannya pada leher anaknya, "Anakku, sebetulnya kalung ini sudah ada di saku Ayah sejak pertama kali Ayah meminta kalungmu, tapi Ayah menunggu kamu memberikan sendiri kalungmu itu dan Ayah gantikan dengan yang lebih baik & indah".

Si anak menangis terharu.

Seringkali kita merasa Allah SWT tidak adil. Dia yang memberikan, tapi kenapa Dia juga yang mengambilnya. Kadang kita selalu sakit hati, sedih dan kecewa, tapi tidakkah kita tahu, di saat Allah SWT mengambil sesuatu yang berharga dari kita, ternyata Allah SWT punya rencana lain. Dia mau menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK dari apa yang sudah kita miliki sekarang.

Jadi,
  • Terimalah apapun yang kita alami (bersabar),
  • Berilah apa yang harus kita berikan (beramal),
  • Kembalikanlah apa yang diminta oleh Allah SWT (ikhlas), dan
  • Tetaplah bersyukur, maka rejeki kita insya Allah akan dilipat gandakan.
Semoga kita selalu merasa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki.

Surga Dunia Kita

diposkan pada tanggal 6 Okt 2013 01.48 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui6 Okt 2013 01.49 ]


gambar enjoy
Surga tidak ada di dunia. Tapi di Sunda malah ada Suarga, maaf bercanda :-). Memang surga tak ada di dunia karena, Allah SWT menyiapkannya untuk di kehidupan akhirat. Akan tetapi seorang Ibnu Taimiyah pernah berkata, "Barangsiapa tidak menemukan surga dunianya, maka ia tidak akan memasuki surga akhirat-Nya."

PakHuman sebetulnya sedang meresapi dengan kemampuan sederhana yang PakHuman miliki, apa di balik makna kata-kata seorang ulama besar sekaliber Ibnu Taimiyah. PakHuman jadi teringat dengan pertemuan dengan seorang Ibu yang sudah mengenalkan ke-8 anaknya menjadi sukses semua. Kalau di China, cukup terkenal satu Ibu yang demi suksesnya anak ia siap berkorban apa saja membantu anak-anaknya habis-habisan, yang bernama Amicua. Seorang Amicua ini sangat terkenal sehingga dijuluki sebagai Tiger Mother.

Mungkin sebaiknya PakHuman angkat dulu kisah Amicua ini. Ia adalah seorang Ibu dari China yang kuat ajaran Chinanya dan menikah dengan seorang Amerika. Karena berbeda keyakinan dan negara, Ibu Amicua ini membuat kontrak dengan suaminya, "Saya mau menikah dengan Anda dengan syarat urusan anak, sepenuhnya saya pegang dan Anda tidak boleh ikut campur." Ia punya dua anak. Didikannya keras dan disiplin. Ia bilang ke anaknya, "Tidak boleh ujian, kecuali nilai harus 100. Dan tidak boleh bermain musik, kecuali biola dan piano."

Kedua anaknya sukses semua, sampai menginjak usia remaja yang anak pertama protes. "Mulai sekarang Ibu jangan ngatur saya lagi. Saya tidak mau bermain biola dan piano lagi tapi saya ingin bermain tenis." Jadi, anak pertama ini tidak enjoy, jika menuruti kemauan Ibunya. Keinginannya banyak bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Ibunya. Namun adiknyalah yang sukses dengan kepatuhan yang tinggi terhadap Ibunya.

Sampai disini saja kisah Tiger Mother ini. Yang penting bagi kita adalah kepandaian dalam mengambil hikmah dari sosok mana pun. Hikmahnya adalah enjoy itu yang terpenting. Dan inilah yang diterapkan oleh Ibu D yang saya jumpai dan interview berbagi kisah suksesnya dalam mendidik 8 anaknya.

Ibu D ini sudah mengantarkan kedelapan anaknya menjadi orang sukses dari ukuran dunia, karena mereka tak hanya tinggal di Indonesia, tapi beberapa di negara maju dengan profesi bintang terang yang sudah tercapai di bidangnya masing-masing.

Saat berbagi tips, Ibu D ini membeberkan rahasianya. "Yang penting itu enjoy. Jika anak saya punya kesukaan untuk melakukan suatu hal dan itu positif, maka akan saya dukung terus supaya tambah enjoy. Karena saya berkeyakinan, orang-orang yang enjoy dalam melakukan sesuatu akan mencapai prestasi terbaik di bidang yang digeluti. Orang kalau enjoy melakukan sesuatu tidak akan terbebani melakukan apa pun, meskipun bagi orang lain melihatnya sebagai beban berat. Jadi, jika kamu terpaksa tak usah dilakukan, karena hanya akan jadi beban, dan enjoy tidak akan dapat." 

Bicara enjoy kan sebetulnya bicara menikmati suatu hal yang biasanya terkait dengan aktivitas tertentu. Menikmati adalah bagian dari menemukan surga dunia. Meskipun surga itu tak ada di dunia, Namun maksudnya dengan menikmati sesuatu maka seseorang akan menjadi senang seolah hidup sudah menemukan kebahagian dan tidak galau menghadapi kehidupan. Pernah muncul sebuah buku berjudul Menikmati demokrasi. Jadi, dalam situasi demokrasi pun masih bisa kita temukan kenikmatan, jika enjoy menjalankan tugas dalam berdemokrasi.

Seorang yang enjoy atau bisa menikmati kehidupan wa bil khusus bidang dan tugas yang ia emban dan geluti, akan menghasilkan prestasi. Inilah prinsip para pengusaha sukses: apapun usaha kita kalau kita menjalaninya dengan benar dan enjoy maka akan membuahkan sukses. Dan jika kita kaitkan dengan sebuah ayat "Jika kalian mau bersyukur, maka akan Aku tambahkan nikmat kepada kalian", bukankah itu sudah cukup jelas tertulis bahwa dengan melakukan sesuatu secara penuh syukur apalagi bisa menikmatinya, maka prestasi akan terus ditambahkan?

Kesimpulan PakHuman, lakukanlah pekerjaan atau profesi dengan penuh enjoy, serambi bersyukur terhadap seluruh kemampuan yang dikaruniakan-Nya untuk Anda  Begitu pun dengan tugas lain seperti halnya parenting. Jika kita bisa menikmati mengasuh anak dengan menerima apa pun faktor genetik pemberian-Nya kepada anak kita, bukankah itu juga bentuk bersyukur yang ditandai oleh senyuman tulus mengasuh anak, bukan bentakan dan kemarahan?

Begitu pun tugas besar lainnya, entah seorang pemimpin, ulama, aktivis, dan lain-lain. Bahan bakar enjoy yang diliputi penuh rasa kesyukuranlah yang akan menjadikan beban-beban hilang, yang ada setiap ujian terasa nikmat. Ujian hidup yang bisa kita nikmati adalah bagian dari menemukan surga yang tak terlihat. Enjoy saja, nikmati saja, bersyukur saja! Surga dunia insya Allah akan hadir. Dan bila disertai niat untuk ibadah, maka surga sebenarnya yang telah Ia siapkan pastilah nyata.

Keliling Dunia Itu Nyata

diposkan pada tanggal 3 Okt 2013 21.28 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui3 Okt 2013 21.29 ]


Keliling dunia
Kali ini PakHuman dapat inspirasi baru. Dalam perjalanan Bandung ke Bekasi dengan travel, PakHuman bertemu dengan Ibu yang kalau dilihat dari wajah usianya sudah 70-an tahun. Yang membuat ia begitu sederhana adalah pakaiannya yang berkerudung rapi. Kebayangnya pertama kali melihat sosok Ibu ini adalah nenek biasa yang sudah sadar agama karena usia. Tapi waktu duduk di sebelahnya dan dia sedang bicara dengan HP saya sungguh tercengang dengan apa yang ia ucapkan di HP, "Saya ingin terima beres urus surat-suratnya karena saya ingin ke Jerman". Sontak PakHuman bergumam dalam hati ini, nenek bukan sembarang nenek.

Sambil belajar banyak hal dari orang lain sekaligus ingin menjawab rasa penasaran tentang siapa sang nenek hebat ini, mulailah PakHuman melontarkan sapaan dan pertanyaan, "Lagi urus surat jual rumah, Bu." Kalimat pembuka PakHuman tidak meleset dari tebakan. "Iya Pak, saya jual rumah di Bandung, cuma suratnya repot ngurusnya karena tanahnya sewa ke pemda". Supaya ia mau cerita banyak tentang kaitannya dengan kenapa ke Jerman, PakHuman pancing dulu dengan berbagi cerita. "Di Indonesia sering macet ya Bu, di negara lain seperti China mana ada jalan tol cuma dua ruas seperti ini." Dia sudah mulai tertawa, menunjukkan pengalamannya tinggal di negara-negara lain cukup sering.

Jika orang yang baru kita kenal mau tertawa itu tandanya sudah klik, dan dia pasti akan cerita banyak hal. Pintu PakHuman untuk bertanya banyak hal tidak terhalang lagi. Apalagi dengan melihat usia, biasanya orang yang sudah berumur lebih itu akan sabar menceritakan pengalamannya, apalagi sesedikit kita berempati padanya.

Ia ke Jerman dalam rangka menengok anaknya yang tinggal di Jerman dan menikah dengan penduduk Jerman berketurunan Turki. Setiap tahun si Ibu tadi pasti ada jatah kesana. Di Jerman, rumah anaknya berseberangan dengan Perancis, jadi sesekali ia jalan-jalan ke Paris. Ia sudah naik haji dan setiap tahun ia umroh.

Tak hanya ke Jerman dan Perancis, anaknya juga ada yang tinggal di Amerika dan negara-negara lainnya. Anaknya total 8 orang. Yang jadi dokter dua orang. Selebihnya jadi dosen, internasional coach dan profesi sukses lainnya.

Cerita semakin menarik, karena si Ibu bercerita kisahnya ketika di Abu Dhabi, transit 3 hari dan menghabiskan waktunya untuk tamasya dengan naik mobil off road. Si Ibu diberi tas kresek oleh petugas off road. Dan si Ibu bertanya kenapa dikasih tas kresek. Alasannya, karena petugas tahu dia orang Indonesia, sehingga harus disiapin kresek jika mabuk.

Singkat cerita, dia sudah menjelajah seluruh negara, kecuali Amerika. Ia berkali-kali gagal urus visa ke sana, padahal salah satu anaknya di sana, cuma gara-gara ia mau memakai kerudung. Kata petugas visanya, teroris. Ia tidak menyerah, makanya ia menutupi kerudungnya dengan topi saat mencoba urus lagi. Tapi ia ditolak lagi, karena kalau memalai topi itu dikira akan mencari pekerjaan yang tentu jika sudah berumur akan susah diterima.

Bisa berkeliling dunia adalah bentuk dari sukses yang diimpikan banyak orang. Jika sudah menjadi seorang Ibu dan juga patuh dengan syariat Islam pun bisa juga kesampaian suksesnya. Ia adalah pensiunan di sebuah departement pemerintah dan suaminya seorang jaksa. Ketika PakHuman tanya apa rahasiaanya bisa sesukses itu sekaligus anak-anaknya juga sukses semua, ia menjawab, 

"Sejak menikah dengan suami hingga suaminya meninggal, ia selalu diajak oleh suaminya untuk sholat tahajud dengan rutin dan istiqomah". Suami jadi imam. Tak lupa membaca Al Qur'an dengan tartil dengan sebulan khatam. Dan perbanyak shodaqoh. Yang terakhir adalah tak lupa memperbanyak shalawat".

Subhanallah, rahasia di balik tergenggamnya dunia justru dengan memegang teguh sunnah-sunnah yang disyariatkan. Ayo jangan malas, perbanyak dan istiqomahkan amal ibadah jika mau sukses keliling duna :-).

*) gambar diambil dari keliling-dunia.com

Know What Makes You So Special, Dad!

diposkan pada tanggal 1 Okt 2013 21.03 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui1 Okt 2013 21.03 ]


Kalimat yang menjadi judul artikel di atas sebetulnya adalah tulisan yang ada di baju anak PakHuman yang paling kecil,usianya masih 1,5 tahun. Beli bajunya setahun lalu, tapi PakHuman baru ngeh jika tulisannya bermakna tinggi. Menurut hemat PakHuman, kandungan maknanya sebagai berikut:

1. Menyadarkan semua Ayah bahwa dalam dirinya ada keistimewaan yang diharapkan oleh keluarga. 

2. Secara personal aktualisasi diri seorang Ayah adalah kekuatan alami yang perlu dibangkitkan. Jangan sampai kalah dengan situasi atau kehilangan arah.

3. Jika disebutkan bahwa laki-laki itu pemimpin atas wanita maka sebetulnya parent leader itu adalah tugas Ayah.

4. Bisa jadi sindiran, sebenarnya Ayah itu istimewanya dimana ya? Kok sepertinya banyak Ayah yang tidak sadar akan peran pentingnya.

Parenting Ideal, Giving Ideal

diposkan pada tanggal 1 Okt 2013 02.50 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui1 Okt 2013 02.51 ]


parenting ideal giving ideal
Menjadi orang tua itu adalah menjalankan amanah untuk mengantarkan sang buah hati tumbuh sukses cemerlang. Apa pun diberikan kepada anak agar suatu saat bisa sukses. Kita sering mendengar syair lagu, "Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia". Jadi, berbicara mengenai parenting adalah berbicara sebesar-besar sense of giving atau juga ada yang menyebut dengan art of giving kepada anak-anak kita. 

Nah, timbul dilema. Mengantarkan sukses terkadang membuat orangtua terjebak untuk menuntut anak agar lebih baik, tak jarang yang akhirnya memaksakan kehendaknya. Yang ini namanya otoriter. Jika teknik giving ini dipakai, maka bisa jadi anak akan gagal total. Bisa jadi anak akan protes, tertekan, melampiaskan kebebasan dengan teman-temannya di luar rumah dan bentuk yg jauh dari harapan. 

Sebaliknya, jika hanya respon kasih sayang tinggi yang diutamakan, tanpa pernah menggunakan otoritas sebagai orang tua, ini namanya posesif. Mudahnya, terlalu menuruti apa yang anak minta tanpa kita beri arahan. Memanjakan berlebihan juga masuk kategori ini. 

Pilihan untuk mengurangi keduanya, yakni respon kasih sayang dikurangi dan tuntutan target kepada anak juga dikurangi bukanlah menjadi solusi. Ini namanya tak acuh atau mudahnya si anak dibiarkan saja seperti orang asing. Ini bukan pilihan, karena sama saja kita ingin berlepas tangan menjadi orang tua. 

Timbul pertanyaan, siapa yang lebih cenderung menuntut banyak secara otoriter? Dan siapa yang cenderung memberi respon kasih sayang yang posesif? Syair qosidah ini mudah untuk dijadikan klu jawabann. "Adikku melanggar hukum, aku yang menjadi saksi, paman penuntut umu, ayah yang mengadili, kalau ibu ingin membela......"

Ya, Paman dan Ayah adalah sosok laki-laki yang lebih suka menjadi penuntut. Mengadili, mempertimbangkan apa yg dituntut, jadi tetap saja lebih cenderung menuntut. Sedangkan, aku (penyanyi yang perempuan) dan ibu hanya diposisikan sebagai saksi dan pembela. Sosok saksi memang harus netral, tapi sosok Ibu yang jadi pembela pastilah si pembela berusaha memenangkan kliennya, dalam artian apa pun coba dilakukan demi klien.

Tadi hanya analisa dari analogi syair lagu. Tapi kita menjadi sadar bahwa ayah lebih cenderung menuntut, sedangkan ibu lebih cenderung responsif. Menikah adalah menyempurnakan agama sekaligus karakter. Dan ternyata giving yang ideal demi sukses gemilang anak adalah dua-duanya harus sinergi, baik ayah maupun ibu harus saling belajar agar keduanya bisa memainkan peran penuh kasih sayang, tapi d sisi lain juga tetap memberi tuntutan lebih.

Aplikasinya bisa bergantian atau bersamaan. Bergantian contohnya, setelah memberi hukuman kepada anak karena melanggar kesepakatan, maka orang tua harus memberi kasih sayang yang besar. Bersamaan contohnya, sambil menyuruh sambil menyanyangi. Kondisi keseimbangan antara hati dan pikiran harus terkontrol memang untuk memainkan peran giving ideal ini. Makanya, salah satu tekniknya adalah dengan cara membaca Al Qur'an sambil dimaknai maknanya, sehingga akal dan hati menjadi hidup dan kita siap menjadi orang tua ideal.

Dimana Sosok Seorang Ayah Itu?

diposkan pada tanggal 29 Sep 2013 21.37 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui29 Sep 2013 21.37 ]


Ada beberapa hal yang menjadi penyebab mengapa Ayah menjadi kurang berperan dalam parenting, yakni:
  • Dalam buku Why men can't listen and women can't read the map? dijabarkan bahwa pria (Ayah) lebih berpikir linier dan susah untuk bercabang, sedangkan wanita (Ibu) lebih bisa berpikir bercabang dan susah untuk menentukan arah. Perbedaan ini bisa ditemukan untuk saling melengkapi dalam keluarga. Akan tetapi, liniearnya cara pikir Ayah sering menjadi alasan bahwa yang dipikirkannya hanya melulu pekerjaan atau profesi. Seolah profesi segala-galanya dan parenting diserahkan ke Ibu. 
  • PakHuman setuju bahwa profesi itu pertanyaan penting kedua, setelah pertanyaan agama apa yang Anda anut. Namun switching tetap diperlukan. Saat Ayah pulang ke rumah, segera tutup address atau folder di otak tentang pekerjaan dan segera buka folder untuk anak.
  • Masih kelanjutan dari judul buku tersebut, pria (Ayah) itu lebih percaya ketika benar-benar terlihat. Contohnya, saat mencari mentega di kulkas saja, jika letak menteganya terbalik dan tulisannya jadi terbalik di labelnya, maka bisa jadi si Ayah bilang tidak ada. Nah... yang tak terlihat dari parenting adalah apa sih gaji yang didapat jika sibuk atau capek mengasuh anak? Jujur sebagai seorang Ayah, ketiga anak PakHuman yang di bilang masih pada balita, ketika pendapatan saya berikan ke istri maka tak cukup untuk membayar pengasuhan anak-anak. 
  • Parent leader gak ada yang menggaji, tapi kelak di akhirat pahala yang mengalir dari doa anak-anak, terlebih anak yang bisa hafal Al Qur'an akan menjadi salah satu aset paling berharga. Belum lagi saat di dunia, ketika anak masih kecil totalitas giving yang diperlukan. Akan tetapi jika sudah menginjak dewasa, maka semua Ayah akan bisa melihat betapa untung berlipat-lipat hasilnya. 
  • Jadi, jika Ayah merasa cepat lelah dan marah ketika anak-anaknya msh kecil saat minta perhatian, maka seandainya PakHuman jadi seorang anak maka saya akan protes "Ayah, kenapa ayah ga sabar mengasuhku, kan aku masih kecil dan belum bisa mendiri. Bersabarlah Ayah, karena setahuku menjadi anak kecil itu cuma sebentar saja kok, maafkan aku, Ayah..."
  • Dengan tren tingkat kompetisi profesi, maka Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga seolah menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk di kantor. Bahkan tak jarang demi tuntutan profesi harus berpisah dengan keluarga, karena hanya bisa pulang seminggu sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali bahkan hanya setahun sekali. Namun keterpaksaan mengikuti tren sama sekali tak bisa mengubah tanggung jawab. 
  • Jika kepala keluarga adalah Ayah, dan karena tuntutan profesi apa pun kondisinya, maka jabatan keluarga tak bisa berpindah ke Ibu, kecuali bagi yang single parent. Prinsip bayar hutang harus ditegakkan. Jika sibuk dan jauh dari keuarga, maka ketika pulang kerja di mess atau pun di kos-kosan, maka segeralah memakai kemudahan digital untuk bercengkrama dengan keluarga baik lewat sosial media maupun talking
Semoga Ayahku sudah ketemu sekarang!

1-10 of 11