Warta‎ > ‎Pojok Inspiratif‎ > ‎

Kecerdasan Sejati

diposkan pada tanggal 21 Okt 2013 22.58 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui21 Okt 2013 22.59 ]

ilustrasi kematian
Setiap orang punya potensi berpikir yang berbeda-beda. Uji, tes, riset, teori, dan berbagai penemuan tentang kecerdasan manusia sangat beragam, yang jelas semakin kemari semakin detil.

Hanya saja, apa yang harus kita lakukan setelah tes dan kita tahu kecerdasan macam mana, itulah yang terpenting. Potensi tanpa digembleng atau diasah hanya akan menjadi stok yang makin lama makin kadaluarsa. Tapi, potensi yang bisa tumbuh akan membuat kapasitasnya tambah banyak dan akan melahirkan berbagai prestasi.

Jadilah seperti dokter, insinyur, atau komandan bagi tipe analis. Jadilah seperti pemimpin, trainer, atau psikolog bagi tipe perasa. Jadilah seperti atlet, berkarir militer, atau saudagar bagi tipe rajin. Jadilah seperti sutradara, arsitek, atau pengusaha bagi tipe kreatif. Dan Jadilah seperti aktivis, musikus, atau cheft (koki masak) bagi tipe naluri.

Muncul satu pertanyaan, jika pun sudah sukses dengan bintang terang sesuai kecerdasan utama seseorang, kenapa bintang terangnya hanya pada individunya, tapi tak berhasil menyinari keluarganya, lingkungannya, bahkan tak berhasil menjadi bintang yang bersinar kekal, dalam arti bintang terangnya mengantarkannya kelak bahagia di syurga?

Cek kondisi riil. Betapa banyak akademisi bahkan pejabat kampus yg terlibat KKN? Susah-susah menjadi apoteker, ada lho yang berbohong dengan sekian persen obat tak sesuai. Buktinya obat bekas itu laku kan? Betapa banyak dokter yang mengejar gemilangnya bonus dengan asal meresepkan antibiotik? 

Ketua MK saja sudah tertangkap KPK, lalu bagaimana dengan penegak hukum yang berada di bawahnya? Itu dimensi moralnya yang tidak terang. Status personalnya sudah terang, tapi kebusukan moralnya lama kelamaan juga terang, yang ini malah menghapus terang status personalnya.

Belum lagi, betapa banyak yang sukses mengejar bintang terang profesi, tapi tumbuh kembang anaknya tertinggal. Orang tua berpikir bahwa uang itu tujuan utama dan ketertinggalan anaknya bisa dibayar dengan mencari sekolah yang paling mahal. Dan hal itu terjadi hari ini. 

Penulis bertemu dengan kepala sekolah TK swasta ternama di Bandung. Uang pangkalnya saja sudah seperti nominal uang kuliah. Akan tetapi beliau curhat, "Kenapa ortunya sukses di karir, tapi anaknya banyak yang tertinggal tumbuh kembang?"

Penulis jadi merenung, "lalu apa sih kecerdasan sejati yang membuat bisa sukses semua?" Bukan hanya sukses diri, tapi juga keluarga dan anak tambah sukses, lalu menjadi teladan disekitarnya, bahkan dengan profesi yang dimilikinya ia bertambah soleh dan menambah kunci-kunci masuk syurga-Nya?

Ternyata, dimensi tanggung jawab tak selesai hanya sukses seorang diri. Dimensi tanggung jawab juga untuk sukses keluarga dan masyarakat sekitar, bahkan sukses dunia juga harus sukses akhirat. Lalu jika begitu apa kecerdasan sejati yang bisa membuat semuanya itu jadi nyata? 

Sang manusia teladan, Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan bahwa manusia yang paling cerdas adalah yang paling ingat mati. Jadi, kecerdasan sejati adalah kecerdasan apa pun yang bisa membuatnya terus ingat mati

Salam Syukur.
Comments