Warta‎ > ‎Pojok Inspiratif‎ > ‎

Kuadran Syukur

diposting pada tanggal 21 Okt 2013 00.11 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui21 Okt 2013 00.11 ]

Mensyukuri nikmat itu adalah kewajiban. Anehnya, banyak yang terlena jika sudah dapat nikmat, alih-alih bersyukur. Mudahnya, hal ini dapat dikisahkan dengan seorang penikmat koin. 

Sang penikmat koin uang ini sedang berada di lembah di bawah tebing jurang. Temannya yang di tebing jurang ingin memperingatinya bahwa sebentar lagi akan longsor. Teriakan tak akan sampai, kecuali ada benda yg bisa jatuh dan dijadikan isyarat. Berhubung punya koin banyak, ia menjatuhkan pada penikmat koin yang tak lain adalah temannya juga. Tapi dasar karakter penikmat koin, bukannya melihat ke atas siapa yang memberinya, tapi ia malah mengantonginya tanpa menoleh sedikit pun ke atas. Diulang terus sampai koin habis, tapi tetap saja reaksinya tetap mengantongi koin yang tambah banyak. 

Karena situasi sudah genting dan koin habis, teman yang di atas punya akal, mungkin koin bukan pengingat yang paling kerasa. Ia coba melempar sebongkah batu dan jatuh di kaki temannya. Ketika batu sudah di kaki, barulah ada teriakan, "Aduh... Siapa ini yang melempar batu.." sambil menoleh ke atas.

Banyak contoh riil kasus seperti ini. Betapa banyak pemimpin kampus ternama atau rektor yang kemudian ketika jadi pejabat atau menteri akhirnya lupa bersyukur, sehingga harus kena batu dan tinggal di penjata tipikor. Jika pemimpin pendidikan saja seperti itu, apalagi yang lain, tentu bisa kebayang. Ini adalah tipikal manusia paling banyak dalam keterlenaan. Terlena adalah jenis kuadran syukur yang ternyata dihuni paling banyak manusia. 

Maksudnya, garis sumbu X  kita sebut daya nikmat. Sumbu X postif berarti bertambahnya nikmat. Sumbu X negatif berarti berkurangnya nikmat.

Karena manusia diperintahkan bersyukur, sumbu Y kita anggap kewajiban bersyukur. Sumbu Y positif berarti mau bersyukur, dan Y negatif berarti tak mau bersyukur. Jadi, letak terlena adalah pada Kuadran IV, yakni bertambahnya nikmat malah membuat enggan bersyukur.

Karena bersyukur itu wajib, maka agar manusia mau bersyukur dikurangi saja nikmat yang diterimanya. Walhasil, jika sedang pailit, kena musibah barulah manusia mulai mau menengok ke atas untuk melihat, ternyata nikmat selama ini ada Yang Memberikan kepadanya, dan tatkala tak mau bersyukur, jadinya berkuranglah nikmatnya. Kita sebut ini Kuadran II, berkurangnya nikmat barulah menjadi pengingat supaya ia mau bersyukur. Kuadran II berarti bisa kita sebut teringat.

Yang agak susah menempuhnya karena melawan arus kebanyakan adalah Kuadran I. Tambah nikmat, tapi tetap bisa tambah syukur. Orang seperti ini berarti hatinya hidup dan ada kedekatannya dengan Yang Maha Pemberi Nikmat, tak bisa digadai oleh tumpukan kenikmatan. Kita sebut saja Kuadran I ini dengan tahu diri.

Lalu pastinya, terujinya seseorang untuk benar-benar terus bersyukur adalah jika nikmat terus berkurang, bahkan bisa jadi bertubi-tubi, tapi ia tetap mau bersyukur, bahkan tambah besar rasa syukurnya. Ini berarti di Kuadran III. Berat memang jika kita pahami, tapi buahnya akan besar berlipat. Bukankah sudah dijanjikan Siapa yang mau bersyukur akan Aku tambahkan nikmat dari-Ku

Jadi, ini hanya ujian saja, karena datangnya nikmat yang berlipat akan segera hadir dan itu pasti.

Sahabat, janganlah kita terbuai dalam keterlenaan, sehingga kita hanya mengingat-Nya hanya ketika nikmat dari-Nya hilang. Karena bisa jadi kita tiada lagi saat dalam keterlenaan. Jangan sampai!

Mari kita besarkan kedekatan dengan-Nya, sehingga jika tertimbun nikmat, maka radius terdekat dengan kita tetaplah kepada Sang Pemberi Nikmat tersebut. Dengan demikian, saat nikmat berkurang, itu pun tak jadi soal, karena ketika kita lebih dekat dengan Sang Pemberi Nikmat, kita tetap bersyukur dan tambah erat doa dan kedekatannya, karena kita sedang menunggu janji-Nya untuk memberi nikmat yang bisa jadi akan lebih besar. 

Salam Syukur.
Comments