Warta‎ > ‎Pojok Inspiratif‎ > ‎

Parenting Ideal, Giving Ideal

diposting pada tanggal 1 Okt 2013 02.50 oleh Humas PKS Coblong   [ diperbarui1 Okt 2013 02.51 ]

parenting ideal giving ideal
Menjadi orang tua itu adalah menjalankan amanah untuk mengantarkan sang buah hati tumbuh sukses cemerlang. Apa pun diberikan kepada anak agar suatu saat bisa sukses. Kita sering mendengar syair lagu, "Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia". Jadi, berbicara mengenai parenting adalah berbicara sebesar-besar sense of giving atau juga ada yang menyebut dengan art of giving kepada anak-anak kita. 

Nah, timbul dilema. Mengantarkan sukses terkadang membuat orangtua terjebak untuk menuntut anak agar lebih baik, tak jarang yang akhirnya memaksakan kehendaknya. Yang ini namanya otoriter. Jika teknik giving ini dipakai, maka bisa jadi anak akan gagal total. Bisa jadi anak akan protes, tertekan, melampiaskan kebebasan dengan teman-temannya di luar rumah dan bentuk yg jauh dari harapan. 

Sebaliknya, jika hanya respon kasih sayang tinggi yang diutamakan, tanpa pernah menggunakan otoritas sebagai orang tua, ini namanya posesif. Mudahnya, terlalu menuruti apa yang anak minta tanpa kita beri arahan. Memanjakan berlebihan juga masuk kategori ini. 

Pilihan untuk mengurangi keduanya, yakni respon kasih sayang dikurangi dan tuntutan target kepada anak juga dikurangi bukanlah menjadi solusi. Ini namanya tak acuh atau mudahnya si anak dibiarkan saja seperti orang asing. Ini bukan pilihan, karena sama saja kita ingin berlepas tangan menjadi orang tua. 

Timbul pertanyaan, siapa yang lebih cenderung menuntut banyak secara otoriter? Dan siapa yang cenderung memberi respon kasih sayang yang posesif? Syair qosidah ini mudah untuk dijadikan klu jawabann. "Adikku melanggar hukum, aku yang menjadi saksi, paman penuntut umu, ayah yang mengadili, kalau ibu ingin membela......"

Ya, Paman dan Ayah adalah sosok laki-laki yang lebih suka menjadi penuntut. Mengadili, mempertimbangkan apa yg dituntut, jadi tetap saja lebih cenderung menuntut. Sedangkan, aku (penyanyi yang perempuan) dan ibu hanya diposisikan sebagai saksi dan pembela. Sosok saksi memang harus netral, tapi sosok Ibu yang jadi pembela pastilah si pembela berusaha memenangkan kliennya, dalam artian apa pun coba dilakukan demi klien.

Tadi hanya analisa dari analogi syair lagu. Tapi kita menjadi sadar bahwa ayah lebih cenderung menuntut, sedangkan ibu lebih cenderung responsif. Menikah adalah menyempurnakan agama sekaligus karakter. Dan ternyata giving yang ideal demi sukses gemilang anak adalah dua-duanya harus sinergi, baik ayah maupun ibu harus saling belajar agar keduanya bisa memainkan peran penuh kasih sayang, tapi d sisi lain juga tetap memberi tuntutan lebih.

Aplikasinya bisa bergantian atau bersamaan. Bergantian contohnya, setelah memberi hukuman kepada anak karena melanggar kesepakatan, maka orang tua harus memberi kasih sayang yang besar. Bersamaan contohnya, sambil menyuruh sambil menyanyangi. Kondisi keseimbangan antara hati dan pikiran harus terkontrol memang untuk memainkan peran giving ideal ini. Makanya, salah satu tekniknya adalah dengan cara membaca Al Qur'an sambil dimaknai maknanya, sehingga akal dan hati menjadi hidup dan kita siap menjadi orang tua ideal.
Comments